Lamaran itu, jelas akan aku tolak. Tekadku meneguhkan niatku.
Memang belum ada alasan kuat untuk aku menolak lamaran mas Bayu, pria yang keluarganya melamarku lewat papa. Papa senang bukan kepalang, anak kandung semata wayangnya dilamar pengusaha muda yang kebetulan ayahnya dulu sahabat kuliah papa.
Aku berusaha memejamkan mata, tapi tak mampu bertahan lama. Mataku perih, air mata ini tak berhenti menetes basahi pipiku. Ya Allah, jadikan ini keputusan terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi…
****
“Raisa, umur kamu sudah lewat duapuluhdua tahun, beberapa bulan lagi kamu juga wisuda, alangkah baiknya jika nanti kamu wisuda sudah ada pendamping hidup duduk menemani kamu. Mama saja menyesal kenapa ga menikah pas kuliah, jadi pas wisuda mama ada yang nemenin.” Ucap mama suatu hari ketika menjengukku di kosan- yang sebenarnya aktiva tetap milik keluargaku- di depok.
Aku tersenyum, “mamaa, gimana sih, Kalau mama menikah pas kuliah, belum tentu dapat papa. Terus Raisa juga belum tentu lahir ke dunia, dari rahim mama tersayang. Masalah pendamping wisuda, bagi Raisa mama papa yang paling berhak menemani Raisa, lagian juga undangannya ada dua, ya pas buat papa mama.” Pelukku erat ke mama. Mama menggelengkan kepala, “kamu ini ga bisa selamanya sama papa sama mama, itu ga cukup sayang.” Ucap mama mengalah seperti biasa.
Raisa, nama yang orang tuaku berikan pada bayi kecil sematawayangnya duapuluhdua tahun yang lalu. Sebagai cinta, sahabat, dan anak, aku tumbuh dengan penuh kasih sayang yang tak terbagi. Selama ini aku merasa sangat cukup sehingga tak sempat aku memikirkan makhluk lain yang kan mengisi relung hatiku. Pasti orang-orang akan bertanya, bagaimana bisa? Aku juga bingung menjawabnya.
Ketika aku berusia belasan tahun, aku heran mengapa anak-anak gadis seusiaku berdandan cantik hanya untuk menarik perhatian teman-teman berantemku (maksudnya karena dulu aku tomboy dan hobby berantem dengan anak laki-laki). Semakin bertabah usia aku semakin heran mengapa temanku bisa menangis meraung-raung ketika tahu pria yang disukainya pergi nonton kebioskop dengan seorang gadis-yang katanya gak sepadan dengannya-itu. Dan sekarang, aku juga heran kenapa banyak sahabat-sahabatku yang memilih menikah muda (termasuk mama yang menyarankanku untuk segera menikah sejak setahun terakhir)?.
Aku berdiri di depan cermin, melonggarkan jilbab dan mengambil air wudhu. Setelah selesai berwudhu, aku bergegas ke lantai atas untuk melaksanakan sholat dhuha sebelum bertemu dengan dosen pembimbingku. Mushola masih sepi, mungkin hanya ada aku. Maklum, jam kuliah. Pikirku. Aku melirik ke jam dinding, “hm… masih ada empat jam lagi ketemu mentii-mentiku, masih ada waktu untuk berdiskusi panjang mengenai kesimpulan skripsiku.”
Sebelum aku takbir, aku mendengar suara sayup-sayup dari lantai bawah. “Raisa? Melamar Raisa?” suara itu tertangkap jelas di telingaku. Aku terperajat mendengar tiga kata itu. “Huss, pelankan suaramu akh, nanti ada yang mendengar. Nanti saja ceritanya, nanti malam di rumahmu.”ucap seseorang dari suara yang berbeda.
Aku penasaran, segera ku laksanakan sholat duha dan bergegas turun ke bawah berharap barang kali aku bisa tahu siapa orang yang menyebut nama yang serupa denganku. Orang yang aku kenalkah? Atau memang cuma akunya yang kegeeran?
Aku melihat dua pemuda keluar dari mushola dan dua-duanya tak tampak wajahnya. Tapi dari posturnya sepertinya asing bagiku. Astagfirullah, aku langsung buang muka. Apa sih yang aku pikirkan?
*****
Masih di hari yang sama.
Seusai mengisi mentoring, aku berniat keperpustakaan pusat mencari bahan akhir skripsiku. Hampir sepuluh menit aku menunggu bis kampus di halte, sampai pada bis itu datang penuh penumpang. Aku berdiri tak jauh dari pintu masuk.
“silahkan mbak,” seseorang beranjak dari duduknya, mempersilahkanku. Aku menoleh kearahnya beberapa detik, menganggukan kepala dan langsung duduk.
“kak Raisaaaaa….” Gadis disampingku memelukku.
“Naima.” Panggilku.
“wah, memang ga bisa jauh-jauh dari kak Raisaa, pasti Naima rasanya mau meluk, padahal baru tadi ketemuan.hehehe” celoteh gadis itu girang. Kucubit pipinya pelan dan dia makin erat memelukku.
“Oh iya kak, kebetulan sekali. Aku ingin memperkenalkan kak Raisa dengan abangku.” Naima menarik tas pria yang berdiri di depannya, orang yang mempersilahkan tempatnya untukku tadi.
“Kak Raisa, ini kak Topan, kakak Naima. Kak Topan ini kak Raisa yang sering Naima ceritakan.”
“Assalamualaykum, Raisa” ucapku. “waalaykumusalam warohmatullah, Topan,”balasnya.
Topan tersenyum sepersekian detik, lalu kembali tenggelam dalam buku bacaannya.
Cool sekali orang ini, pikirku.
“Kak Raisa, kak Topan ini beda satu tahun di atas kakak dan sama-sama sedang mengerjakan skripsi.hehehe. Kak Topan telad satu tahun nih, keasikan cari uang. Aku sering banget ngebandingin kakak dengan kak Raisa, terus kakak bilang…” belum sempat Naima melanjutkan kalimatnya, Topan keburu memukul kepalanya dengan buku yang dibacanya, pelan. Naima menatap Topan tajam, “uh, dasar kakak pelit!”
“Sudah mau turun” balas Topan. Naima menyalamiku, “Assalamualaykum, duluan ya kak”. Topan mempersilahkan Naima duluan. Sempat kuperhatikan Topan. Wajahnya mirip sekali dengan Naima, gadis cantik itu. Tapi mungkin sebutannya berbeda, hm… manis, cool atau apa yah? Sekilas aku melihat punggung Topan.
MasyaAllah, diakan pria di mushola tadi! Tebakku penuh keyakinan.
***
Satu bulan.
Singkat cerita aku jadi begitu terpana dengan pria bernama Topan itu. Entah jiwaku atau otakku yang tak lagi ada di tempat. Kemana-mana aku jadi bertemu dengannya. Kok bisa yah? Saat berada di perpustakaan pusat, aku melihatnya sedang berkutat dengan buku dan leptopnya. Saat aku ada di Mesjid kampus, aku melihat dia sedang bersandar membaca al-Qur’an. Saat aku masuk bus kampus, aku menemukan dia, berdiri di ujung pintu. Sesekali ia menyapaku, saat pandangannya menemukanku. Jika tidak, maka seakan dunia menjadi miliknya saja, dan aku amat terusik karena ia tak tahu kehadiranku.
Perasaanku semakin tak karuan jika aku tak sengaja melihatnya duduk semeja dengan teman-temannya dan di antara teman-temannya itu ada seorang wanita berjilbab rapih yang terlihat menarik perhatianku. Aku beberapa kali menemukan Topan berbicara dengannya. Aku jadi bertanya-tanya, siapa wanita cantik itu?
Semua perhatianku tersita padanya. Aku ingin jauh lebih dekat berkenalan, bercerita, tertawa dan-entah mengapa- ingin dilindungi olehnya.
Astagfirullah, apa yang sedang aku lakukan… kuatkan hatiku ya Rabb.
***
Dua minggu kemudian, suatu sore dalam suasana mentoring.
Azan ashar berkumandang, aku segera menutup pertemuan mentoring seperti rutinitas biasanya, menyimpulkan lalu berdo’a. Setelah selesai, Naima menghampiriku dan berkata, “Kak, aku boleh bertanya hal pribadi pada kakak?”
“Seandainya memang bisa ku jawab, insyaAllah akan ku jawab. Hal apa itu sayang?”balikku bertanya.
Naima duduk manis di depanku, “apa kakak ada keinginan untuk segera menikah dalam waktu dekat ini?” katany lembut menghentak hatiku. Lama aku terdiam, hingga aku tersenyum dan mengangguk. Naima membalas senyumanku dengan memelukku sambil menangis, “aku mau kakak saja yang jadi kakakku.” Ucapnya lirih. “memangnya kenapa Nai, kok tiba-tiba kamu berkata begitu?” Tanyaku lagi. Naima menggeleng, lalu menghapus air matanya. Ia tersenyum lagi sebelum menyalamiku dan pamit pergi. Setelah hari itu, ia tak datang ke mentoring berikutnya.
***
Dua minggu lagi aku di wisuda. Subhanallah, akhirnya selesai juga skribsiku. Kini tinggal menghitung hari menunggu prayaan wisudanya. Hatiku lebih ringan dari biasanya.
Hari ini aku pergi menjemput mama di stasiun Gambir. Mama dengan gamis hijaunya melambaikan tanggan ke arahku. Aku langsung melesat ke mama, mencium tanggannya lalu memeluknya erat.
“Assalamualaykum ma… kangen sekali.” Ucapku manja. Kami kemudian bergegas ke stasiun Depok kampusku.
Langit terlihat mendung. Aku meronggohkantangan ke dalam tasku, mencari payung. “Ya ampun ma, Raisa lupa bawa payung.”
Aku mengajak mama berteduh di bawah kios kecil yang kebetulan tidak buka. Ada beberapa orang yang juga ikut berteduh.
Dari gerimis, lama-lama air dari langit turun deras membasahi jalan di sepanjang mata memandang.
“sayang, mama ingin cepat-cepat pulang. Mama lelah sekali” ujar mama tampak terlihat lelah. Aku tak tega melihat mama berdiri memeluk dirinya sendiri, kedinginan.
Entah bagaimana ceritanya, seseorang itu hadir. Suaranya aku hapal sekali. “Maap, mbak Raisa?” Aku langsung menoleh ke arah belakangku, “ya.” Jawabku.
Aku menemukan Topan berdiri di belakangku sambil memegang payung berwarna merah marun. Tanpa berlama-lama pemuda itu menyodorkan payungnya, “silahkan di pakai saja payung saya.”
“Raisa, “suara mama menyadarkan aku yang terpaku dengan kehadirannya.
“sayang, temanmu?” tanya mama kemudian.
“Eeh, iyaaa ma. Mama ini Topan, kakaknya juniot Raisa. Topan ini mamaku baru tiba dari Jogja.” Aku memperkenalkan keduanya. Topan memberi salam dengan mengangguk, “salam kenal ibu.” Ucapnya sopan.
“Maaf, bukan maksud hati mendengar pembicaraan kalian, tapi tadi memang tidak sengaja terdengar. Kebetulan saya bawa payung. Silahkan di bawa Raisa saja.”jelas Topan sembari menyodorkan payungnya lagi.
“Oh, tidak usah repot-ropot mas, ndak papa.” Tolak mama halus.
Deg… rasanya hatiku berdegub kencang. Topan… Topan yang baik hati.
Aku mengambil payung merah marun itu, “Terimakasih. Besok akan segera Raisa antarkan kembali pada Topan. Berapa nomor Hp Topan?” aku mulai memberanikan diri. Topan tersenyum. Deg… hatiku tak karuan. Aku buru-buru memalingkan pandangan.
“Lusa saja, Lusa saya akan datang ke kosatanmu, Rai. Baiklah, saya pamit dulu. Tempat yang ingin saya kunjungi tidak seberapa jauh dari sini. Permisi Ibu, permisi Raisa. Assalamualaykum.” Salamnya berlalu meninggalkanku yang berdiri kaku.
****
Sesampainya di kostan, aku masih bertanya-tanya dengan perkataan Topan tadi: Lusa saja, Lusa saya akan datang ke kosatanmu, Rai. Kalimat itu berulang-ulang hadir menjadi musik sendiri di telingaku.
Ya Rabb, ada apakah gerangan?
Sepertinya rasa penasaranku terbaca oleh mama. Mama menghampiriku yang melamun di atas meja belajar. “Hayoo.. anak mama lagi mikirin apa nih?” tanya mama ikut penasaran.
Aku tersenyum, menggeleng, lalu kembali melamun.
“Kamu suka pemuda tadi ya Rai?” tembak mama tepat di jantungku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, cuma berteriak, “maaaaamaaaaa….” Dan berhamburan ke pelukan mama. Mama menepuk-nepuk pundakku.
Aku menceritakan awal pertemuanku dengan Topan, sikap manisnya, gayanya yang cool, banyak hal yang baru bisa aku pahami dengan melihat pola prilakunya dengan sembunyi-sembunyi. Apapun tentang Topan aku bagi dengan mama. Mama tertawa saat aku menceritakan perasaan cemburuku, mama tersenyum saat aku senyum-senyum menceritakan sikap manisnya mempersilahkanku duduk dan meminjamkan payung, mama juga ikut penasaran dengan wanita yang pernah aku lihat berbicara akrab dengannya. Dan mungkin, mama pun ikut merasakan perasaan asing ini…
Setelah aku selesai bercerita, mama membelai rambutku sembari berkata, “Sayang, mama senang kau jatuh hati. Tapi ada hal yang harus mama katakan padamu sebelum papa datang lusa.”
“Papa mau datang ke depok ma? Memang papa libur kantor? Kangen sama Raisa juga yaa? Kenapa lusa, ga berangkat bareng mama?” Tanyaku beruntun.
“Iya, sebenarnya idenya papa untuk memberi kejutan padamu. Lusa, akan ada yang datang melamarmu. Papa akan pulang untuk memperkenalkanmu.”
Sepertinya ada suara halilintar setelah kata ‘melamar’ itu keluar. Badanku menjadi dingin , terasa beku untuk kedua kalinya dalam satu hari ini.
Bagaimana ini? Lusa? Bukannya lusa Topan akan datang. Bagaimana kalau seandainya dia melihat aku dilamar orang, bagaimana ini? Aku tidak siap menerima kenyataan bahwa akan menutup pintu harapan yang baru saja aku ketuk.
“Raisa sayang, kenapa wajahmu jadi pucat? Tenang sayang, kamu harus tenang. Ada begitu besar peluang. Bisa jadi pemuda yang akan datang melamarmu adalah pemuda tadi siang. Toh mama juga belum lihat anaknya. Kemarin baru orang tuanya yang membicarakan hal ini dengan papamu via telpon. Ternyata mereka teman papa. Papa juga masih main rahasiaan sama mama. Tapi papa mama sepakat ingin memperkenalkan kalian berdua dulu. Semua keputusan tetap berada di tanganmu Honey.”
“Mama ga tau nama pemuda yang akan melamar itu?” Tanyaku penuh harap. Mama menjawabnya dengan menggeleng.
Rasanya, kan jadi malam yang paling panjang dalam seumur masa hidupku.
***
Seharian aku tak bisa tidur. Aku terus berdo’a, aku terus berharap semoga saja jodohku adalah dia yang menawan hatiku satu bulan ini. Terkadang cinta memang tak butuh waktu yang lama. Cinta? Akh, aku belum paham apa ini cinta. Tapi memang bukankah cinta tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, tapi cukup dirasakan.
Duh Raisa, sok puitis! Celetukku dalam hati.
Aku berdiri di depan cermin, memperhatikan wajahku, senyum-senyum tidak karuan. Ah… rasanya tidak sabaran menunggu papa datang. Sayang papa tetap ingin menjadikan ini kejutan. Aku tidak bisa menyimpan rasa penasaranku lebih lama walau dalam hitungan jam.
Aku jadi ingat Naima terakhir kali bertemu. Gadis itu memelukku erat sambil bekata, aku mau kakak saja yang jadi kakakku.Ya Allah, rasanya ini seperti pertanda baik.
“Naima, jika memang Allah yang menakdirkan, alangkah senang memiliki adik sepertimu. Selama ini aku selalu sendiri, maka nanti akan ku bagi sayangku juga padamu.” Aku mulai berceloteh sendiri.
***
Esok harinya, hari yang dinanti. Aku sudah berpakaian rapih. Aku sengaja memilih jilbab berwarna merah marun, senada dengan rokku. Warna yang serupa juga dengan payung Topan. Ku genggam erat payung itu.
Sehabis sholat dzuhur, papa duduk santai di depan televisi. Sesekali ia menoleh ke arahku yang terus memperhatikan papa.
“Raisa sayang, sabar ya, kata nak Bayu kira-kira setengah jam lagi akan sampai.” Papa terseyum padaku.
“Bayu? Namanya Bayu pa? bukan Topan?” aku berdiri, melangkah cepat ke samping papa. Belum sempat papa menjawab pertanyaanku, pintu bell berbunyi.
“Nah, sepertinya itu dia yang datang. Lebih cepat dari perkiraan.” Papa segera menyuruhku mematuhi perintahnya, “Sayang, kamu bantu mama dulu di dapur. Nanti kamu keluarnya tunggu papa panggil ya.”
Aku mengangguk penuh hikmat.
Ya Allah… siapa Bayu itu? Apa itu nama lain Topan. Jika Bayu bukan Topan, bagaimana kalau Topan datang diwaktu bersamaan?
Beberapa menit kemudian, aku mendengar papa memanggilku. Dengan nampan berisi toples-toples kue, aku berjalan menuju ruang tamu dalam keadaaan bimbang.
Batapa senangnya aku melihat wajah yang sangat aku kenal itu tersenyum. Hatiku berbunga-bunga. Alhamdulilah ya Allah, ucapku penuh syukur.
“Raisa, duduk sayang.” Perintah papa. Aku langsung mentaati perintah papa. Menundukan kepalaku. Duh… jantung ini berdebar sekali.
“Raisa, ini Bayu dan temannya Topan. Bayu, ini Raisa anak om yang selama ini jadi pembicaraan.” Papa tertawa sambil menggenggam tanganku lembut.
Aku langsung menoleh, Bayu?
Tepat di samping Topan, seorang pemuda duduk di hadapanku. Mata kami beradu, dia tersenyum padaku. Aku buru-buru melepas pandangan ke arah Topan. Topan tak terusik, dia malah menepuk-nepuk pundak pemuda yang ada di sampingnya, sambil berkata, “nah, laksanakanlah tujuanmu sobat.”
Bayu tampak kikuk, “perkenalkan saya Bayu Perdana Setiadi. Mungkin Raisa tidak ingat, dulu kita pernah berkenalan di orientasi kehidupan kamus, tapi hanya sebatas kenalan…” aku sudah tidak mampu menangkap apa yang dikatakan oelh Bayu. Hatiku sakit sekali mengetahui bahwa kedatangan Topan hanya untuk menemani sahabatnya, Bayu. Tubuhku menggigil dan air mata rasanya tak berhenti memberontak ingin keluar. aku buru-buru menyeka sebelum orang-orang itu melihatku. Mama yang datang belakanganlah yang banyak menairkan suasana. Sampai akhirnya mama berkata, “Wah, kalian sahabat baik ya. Kalau nak Topan sendiri gimana, sudah punya pasangan untuk wisuda bulan depan?”
Topan hanya diam tersenyum, bayu yang memberi jawaban. “Kalau Topan tante tinggal menunggu hari, sedang dalam persiapan. Saya yang belum berani datang sendiri, mengajak Topan yang sudah berpengalaman.” Jelas Bayu dan semua tertawa. Hanya aku… hanya aku yang sepertinya terluka mendengar perkataan itu. aku semakin tak kuasa menahan tangis. Sebelum aku beranjak pergi aku hanya membisikan sesuatu ketelinga mama,” ma, Raisa belum bisa jawab sekarang,” dan pamit ke belakang.
***
Hatiku hancur tak karuan, kau menagis sejadi-jadinya.
Lamaran itu, jelas akan aku tolak. Tekadku meneguhkan niatku.
Memang belum ada alasan kuat untuk aku menolak lamaran Bayu, pria yang keluarganya melamarku lewat papa. Papa senang bukan kepalang, anak kandung semata wayangnya dilamar pengusaha muda yang kebetulan ayahnya dulu sahabat kuliah papa. Bayu ternyata bukan saja sahabat yang lebih dulu lulus dari Topan, tapi juga lebih dulu sukses dalam karir, kata mama berusaha membandingkannya dengan Topan.
Aku berusaha memejamkan mata, tapi tak mampu bertahan lama. Mataku perih, air mata ini tak berhenti menetes basahi pipiku.
“Tidak ma, Raisa bukan mencintai Topan karena itu. tapi…”
Mama membelai rambutku lembut, “sayang, tidak semuanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan.”
Aku mengangguk. Aku paham itu. Tapi rasa sakit ini, sakit sekali.
“Ma, Raisa hanya minta diizinkan menangis malam ini… malam ini saja ma.” Ucapku. Mama beranjak keluar kamar, menutup pintu perlahan.
Ya Allah,Hamba tahu engkau menciptakan takdir untuk masing-masing hambaMu. Jadikan aku lebih bertawakal setelah melalui malam ini. Izinkan aku mencintaiMu, melebihi sapapun di dunia ini….

terinspirasi dari seseorang ^^,
Semangat ukhti cantik. Allah pasti memberi yang lebih baik untukmu, jadikan itu indah pada waktunya. amiiin…
(Firdausi, 18 oktober2009)