Feeds:
Posts
Comments

aku tahu kalau hidup itu cuma sekali,
makanya kunikmati dengan caraku,
sembari belajar sesuatu tentang yang hakiki…
tapi tetap saja beberapa orang mendorongku ke jalan yang amad putih…
tidak pernah menyesal.
tapi awalnya tiba2.
jadi berfikir itu bukan diriku.
dan kini aku sedang mencari…

aku tahu kalau jalan kita tak selalu searah …
tapi tetap yg benar selalu menang bagimu…juga bagiku.

aku tahu sesuatu salah,
dan tak mungkin berpura-pura benar.

aku tahu jikalau bodoh,
takkan kuat berpura2 begitu cerdik.

aku tahu jikalau terlalu bebas,
takkan kuat pura2 terarah.

aku tahu jikalau lemah..
tak pantas sllu mcoba menyombongkan hati.
mereka2 yg berdiri sjajar dgnku pasti tahu.

aku tahu kalau hati ini cuma satu.
makanya tak semudah itu keberikan pada siapa-siapa.
tapi tetap saja banyak yang menyalah artikannya.

tenang.
aku hanya sedang berfikir,
sambil mengamati, dan mencari…
dan jika waktunya sampai,
aku sudah membuat satu pilihan…

menciptakan sesuatu yang paling bermakna dalam hidupku, maka aku akan terus bertahan…

Semoga Allah meridhoi…

(bayi lucu sekali…)

yang iniLamaran itu, jelas akan aku tolak. Tekadku meneguhkan niatku.
Memang belum ada alasan kuat untuk aku menolak lamaran mas Bayu, pria yang keluarganya melamarku lewat papa. Papa senang bukan kepalang, anak kandung semata wayangnya dilamar pengusaha muda yang kebetulan ayahnya dulu sahabat kuliah papa.
Aku berusaha memejamkan mata, tapi tak mampu bertahan lama. Mataku perih, air mata ini tak berhenti menetes basahi pipiku. Ya Allah, jadikan ini keputusan terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi…

****
“Raisa, umur kamu sudah lewat duapuluhdua tahun, beberapa bulan lagi kamu juga wisuda, alangkah baiknya jika nanti kamu wisuda sudah ada pendamping hidup duduk menemani kamu. Mama saja menyesal kenapa ga menikah pas kuliah, jadi pas wisuda mama ada yang nemenin.” Ucap mama suatu hari ketika menjengukku di kosan- yang sebenarnya aktiva tetap milik keluargaku- di depok.

Aku tersenyum, “mamaa, gimana sih, Kalau mama menikah pas kuliah, belum tentu dapat papa. Terus Raisa juga belum tentu lahir ke dunia, dari rahim mama tersayang. Masalah pendamping wisuda, bagi Raisa mama papa yang paling berhak menemani Raisa, lagian juga undangannya ada dua, ya pas buat papa mama.” Pelukku erat ke mama. Mama menggelengkan kepala, “kamu ini ga bisa selamanya sama papa sama mama, itu ga cukup sayang.” Ucap mama mengalah seperti biasa.

Raisa, nama yang orang tuaku berikan pada bayi kecil sematawayangnya duapuluhdua tahun yang lalu. Sebagai cinta, sahabat, dan anak, aku tumbuh dengan penuh kasih sayang yang tak terbagi. Selama ini aku merasa sangat cukup sehingga tak sempat aku memikirkan makhluk lain yang kan mengisi relung hatiku. Pasti orang-orang akan bertanya, bagaimana bisa? Aku juga bingung menjawabnya.

Ketika aku berusia belasan tahun, aku heran mengapa anak-anak gadis seusiaku berdandan cantik hanya untuk menarik perhatian teman-teman berantemku (maksudnya karena dulu aku tomboy dan hobby berantem dengan anak laki-laki). Semakin bertabah usia aku semakin heran mengapa temanku bisa menangis meraung-raung ketika tahu pria yang disukainya pergi nonton kebioskop dengan seorang gadis-yang katanya gak sepadan dengannya-itu. Dan sekarang, aku juga heran kenapa banyak sahabat-sahabatku yang memilih menikah muda (termasuk mama yang menyarankanku untuk segera menikah sejak setahun terakhir)?.

Aku berdiri di depan cermin, melonggarkan jilbab dan mengambil air wudhu. Setelah selesai berwudhu, aku bergegas ke lantai atas untuk melaksanakan sholat dhuha sebelum bertemu dengan dosen pembimbingku. Mushola masih sepi, mungkin hanya ada aku. Maklum, jam kuliah. Pikirku. Aku melirik ke jam dinding, “hm… masih ada empat jam lagi ketemu mentii-mentiku, masih ada waktu untuk berdiskusi panjang mengenai kesimpulan skripsiku.”
Sebelum aku takbir, aku mendengar suara sayup-sayup dari lantai bawah. “Raisa? Melamar Raisa?” suara itu tertangkap jelas di telingaku. Aku terperajat mendengar tiga kata itu. “Huss, pelankan suaramu akh, nanti ada yang mendengar. Nanti saja ceritanya, nanti malam di rumahmu.”ucap seseorang dari suara yang berbeda.

Aku penasaran, segera ku laksanakan sholat duha dan bergegas turun ke bawah berharap barang kali aku bisa tahu siapa orang yang menyebut nama yang serupa denganku. Orang yang aku kenalkah? Atau memang cuma akunya yang kegeeran?

Aku melihat dua pemuda keluar dari mushola dan dua-duanya tak tampak wajahnya. Tapi dari posturnya sepertinya asing bagiku. Astagfirullah, aku langsung buang muka. Apa sih yang aku pikirkan?

*****
Masih di hari yang sama.
Seusai mengisi mentoring, aku berniat keperpustakaan pusat mencari bahan akhir skripsiku. Hampir sepuluh menit aku menunggu bis kampus di halte, sampai pada bis itu datang penuh penumpang. Aku berdiri tak jauh dari pintu masuk.

“silahkan mbak,” seseorang beranjak dari duduknya, mempersilahkanku. Aku menoleh kearahnya beberapa detik, menganggukan kepala dan langsung duduk.
“kak Raisaaaaa….” Gadis disampingku memelukku.
“Naima.” Panggilku.
“wah, memang ga bisa jauh-jauh dari kak Raisaa, pasti Naima rasanya mau meluk, padahal baru tadi ketemuan.hehehe” celoteh gadis itu girang. Kucubit pipinya pelan dan dia makin erat memelukku.
“Oh iya kak, kebetulan sekali. Aku ingin memperkenalkan kak Raisa dengan abangku.” Naima menarik tas pria yang berdiri di depannya, orang yang mempersilahkan tempatnya untukku tadi.
“Kak Raisa, ini kak Topan, kakak Naima. Kak Topan ini kak Raisa yang sering Naima ceritakan.”
“Assalamualaykum, Raisa” ucapku. “waalaykumusalam warohmatullah, Topan,”balasnya.
Topan tersenyum sepersekian detik, lalu kembali tenggelam dalam buku bacaannya.
Cool sekali orang ini, pikirku.
“Kak Raisa, kak Topan ini beda satu tahun di atas kakak dan sama-sama sedang mengerjakan skripsi.hehehe. Kak Topan telad satu tahun nih, keasikan cari uang. Aku sering banget ngebandingin kakak dengan kak Raisa, terus kakak bilang…” belum sempat Naima melanjutkan kalimatnya, Topan keburu memukul kepalanya dengan buku yang dibacanya, pelan. Naima menatap Topan tajam, “uh, dasar kakak pelit!”
“Sudah mau turun” balas Topan. Naima menyalamiku, “Assalamualaykum, duluan ya kak”. Topan mempersilahkan Naima duluan. Sempat kuperhatikan Topan. Wajahnya mirip sekali dengan Naima, gadis cantik itu. Tapi mungkin sebutannya berbeda, hm… manis, cool atau apa yah? Sekilas aku melihat punggung Topan.
MasyaAllah, diakan pria di mushola tadi! Tebakku penuh keyakinan.

***
Satu bulan.
Singkat cerita aku jadi begitu terpana dengan pria bernama Topan itu. Entah jiwaku atau otakku yang tak lagi ada di tempat. Kemana-mana aku jadi bertemu dengannya. Kok bisa yah? Saat berada di perpustakaan pusat, aku melihatnya sedang berkutat dengan buku dan leptopnya. Saat aku ada di Mesjid kampus, aku melihat dia sedang bersandar membaca al-Qur’an. Saat aku masuk bus kampus, aku menemukan dia, berdiri di ujung pintu. Sesekali ia menyapaku, saat pandangannya menemukanku. Jika tidak, maka seakan dunia menjadi miliknya saja, dan aku amat terusik karena ia tak tahu kehadiranku.

Perasaanku semakin tak karuan jika aku tak sengaja melihatnya duduk semeja dengan teman-temannya dan di antara teman-temannya itu ada seorang wanita berjilbab rapih yang terlihat menarik perhatianku. Aku beberapa kali menemukan Topan berbicara dengannya. Aku jadi bertanya-tanya, siapa wanita cantik itu?

Semua perhatianku tersita padanya. Aku ingin jauh lebih dekat berkenalan, bercerita, tertawa dan-entah mengapa- ingin dilindungi olehnya.
Astagfirullah, apa yang sedang aku lakukan… kuatkan hatiku ya Rabb.
***

Dua minggu kemudian, suatu sore dalam suasana mentoring.
Azan ashar berkumandang, aku segera menutup pertemuan mentoring seperti rutinitas biasanya, menyimpulkan lalu berdo’a. Setelah selesai, Naima menghampiriku dan berkata, “Kak, aku boleh bertanya hal pribadi pada kakak?”
“Seandainya memang bisa ku jawab, insyaAllah akan ku jawab. Hal apa itu sayang?”balikku bertanya.

Naima duduk manis di depanku, “apa kakak ada keinginan untuk segera menikah dalam waktu dekat ini?” katany lembut menghentak hatiku. Lama aku terdiam, hingga aku tersenyum dan mengangguk. Naima membalas senyumanku dengan memelukku sambil menangis, “aku mau kakak saja yang jadi kakakku.” Ucapnya lirih. “memangnya kenapa Nai, kok tiba-tiba kamu berkata begitu?” Tanyaku lagi. Naima menggeleng, lalu menghapus air matanya. Ia tersenyum lagi sebelum menyalamiku dan pamit pergi. Setelah hari itu, ia tak datang ke mentoring berikutnya.

***
Dua minggu lagi aku di wisuda. Subhanallah, akhirnya selesai juga skribsiku. Kini tinggal menghitung hari menunggu prayaan wisudanya. Hatiku lebih ringan dari biasanya.

Hari ini aku pergi menjemput mama di stasiun Gambir. Mama dengan gamis hijaunya melambaikan tanggan ke arahku. Aku langsung melesat ke mama, mencium tanggannya lalu memeluknya erat.
“Assalamualaykum ma… kangen sekali.” Ucapku manja. Kami kemudian bergegas ke stasiun Depok kampusku.
Langit terlihat mendung. Aku meronggohkantangan ke dalam tasku, mencari payung. “Ya ampun ma, Raisa lupa bawa payung.”
Aku mengajak mama berteduh di bawah kios kecil yang kebetulan tidak buka. Ada beberapa orang yang juga ikut berteduh.
Dari gerimis, lama-lama air dari langit turun deras membasahi jalan di sepanjang mata memandang.
“sayang, mama ingin cepat-cepat pulang. Mama lelah sekali” ujar mama tampak terlihat lelah. Aku tak tega melihat mama berdiri memeluk dirinya sendiri, kedinginan.
Entah bagaimana ceritanya, seseorang itu hadir. Suaranya aku hapal sekali. “Maap, mbak Raisa?” Aku langsung menoleh ke arah belakangku, “ya.” Jawabku.
Aku menemukan Topan berdiri di belakangku sambil memegang payung berwarna merah marun. Tanpa berlama-lama pemuda itu menyodorkan payungnya, “silahkan di pakai saja payung saya.”
“Raisa, “suara mama menyadarkan aku yang terpaku dengan kehadirannya.
“sayang, temanmu?” tanya mama kemudian.
“Eeh, iyaaa ma. Mama ini Topan, kakaknya juniot Raisa. Topan ini mamaku baru tiba dari Jogja.” Aku memperkenalkan keduanya. Topan memberi salam dengan mengangguk, “salam kenal ibu.” Ucapnya sopan.
“Maaf, bukan maksud hati mendengar pembicaraan kalian, tapi tadi memang tidak sengaja terdengar. Kebetulan saya bawa payung. Silahkan di bawa Raisa saja.”jelas Topan sembari menyodorkan payungnya lagi.
“Oh, tidak usah repot-ropot mas, ndak papa.” Tolak mama halus.
Deg… rasanya hatiku berdegub kencang. Topan… Topan yang baik hati.
Aku mengambil payung merah marun itu, “Terimakasih. Besok akan segera Raisa antarkan kembali pada Topan. Berapa nomor Hp Topan?” aku mulai memberanikan diri. Topan tersenyum. Deg… hatiku tak karuan. Aku buru-buru memalingkan pandangan.
“Lusa saja, Lusa saya akan datang ke kosatanmu, Rai. Baiklah, saya pamit dulu. Tempat yang ingin saya kunjungi tidak seberapa jauh dari sini. Permisi Ibu, permisi Raisa. Assalamualaykum.” Salamnya berlalu meninggalkanku yang berdiri kaku.
****

Sesampainya di kostan, aku masih bertanya-tanya dengan perkataan Topan tadi: Lusa saja, Lusa saya akan datang ke kosatanmu, Rai. Kalimat itu berulang-ulang hadir menjadi musik sendiri di telingaku.
Ya Rabb, ada apakah gerangan?
Sepertinya rasa penasaranku terbaca oleh mama. Mama menghampiriku yang melamun di atas meja belajar. “Hayoo.. anak mama lagi mikirin apa nih?” tanya mama ikut penasaran.
Aku tersenyum, menggeleng, lalu kembali melamun.
“Kamu suka pemuda tadi ya Rai?” tembak mama tepat di jantungku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, cuma berteriak, “maaaaamaaaaa….” Dan berhamburan ke pelukan mama. Mama menepuk-nepuk pundakku.

Aku menceritakan awal pertemuanku dengan Topan, sikap manisnya, gayanya yang cool, banyak hal yang baru bisa aku pahami dengan melihat pola prilakunya dengan sembunyi-sembunyi. Apapun tentang Topan aku bagi dengan mama. Mama tertawa saat aku menceritakan perasaan cemburuku, mama tersenyum saat aku senyum-senyum menceritakan sikap manisnya mempersilahkanku duduk dan meminjamkan payung, mama juga ikut penasaran dengan wanita yang pernah aku lihat berbicara akrab dengannya. Dan mungkin, mama pun ikut merasakan perasaan asing ini…

Setelah aku selesai bercerita, mama membelai rambutku sembari berkata, “Sayang, mama senang kau jatuh hati. Tapi ada hal yang harus mama katakan padamu sebelum papa datang lusa.”
“Papa mau datang ke depok ma? Memang papa libur kantor? Kangen sama Raisa juga yaa? Kenapa lusa, ga berangkat bareng mama?” Tanyaku beruntun.
“Iya, sebenarnya idenya papa untuk memberi kejutan padamu. Lusa, akan ada yang datang melamarmu. Papa akan pulang untuk memperkenalkanmu.”
Sepertinya ada suara halilintar setelah kata ‘melamar’ itu keluar. Badanku menjadi dingin , terasa beku untuk kedua kalinya dalam satu hari ini.
Bagaimana ini? Lusa? Bukannya lusa Topan akan datang. Bagaimana kalau seandainya dia melihat aku dilamar orang, bagaimana ini? Aku tidak siap menerima kenyataan bahwa akan menutup pintu harapan yang baru saja aku ketuk.

“Raisa sayang, kenapa wajahmu jadi pucat? Tenang sayang, kamu harus tenang. Ada begitu besar peluang. Bisa jadi pemuda yang akan datang melamarmu adalah pemuda tadi siang. Toh mama juga belum lihat anaknya. Kemarin baru orang tuanya yang membicarakan hal ini dengan papamu via telpon. Ternyata mereka teman papa. Papa juga masih main rahasiaan sama mama. Tapi papa mama sepakat ingin memperkenalkan kalian berdua dulu. Semua keputusan tetap berada di tanganmu Honey.”
“Mama ga tau nama pemuda yang akan melamar itu?” Tanyaku penuh harap. Mama menjawabnya dengan menggeleng.
Rasanya, kan jadi malam yang paling panjang dalam seumur masa hidupku.

***

Seharian aku tak bisa tidur. Aku terus berdo’a, aku terus berharap semoga saja jodohku adalah dia yang menawan hatiku satu bulan ini. Terkadang cinta memang tak butuh waktu yang lama. Cinta? Akh, aku belum paham apa ini cinta. Tapi memang bukankah cinta tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, tapi cukup dirasakan.
Duh Raisa, sok puitis! Celetukku dalam hati.
Aku berdiri di depan cermin, memperhatikan wajahku, senyum-senyum tidak karuan. Ah… rasanya tidak sabaran menunggu papa datang. Sayang papa tetap ingin menjadikan ini kejutan. Aku tidak bisa menyimpan rasa penasaranku lebih lama walau dalam hitungan jam.
Aku jadi ingat Naima terakhir kali bertemu. Gadis itu memelukku erat sambil bekata, aku mau kakak saja yang jadi kakakku.Ya Allah, rasanya ini seperti pertanda baik.
“Naima, jika memang Allah yang menakdirkan, alangkah senang memiliki adik sepertimu. Selama ini aku selalu sendiri, maka nanti akan ku bagi sayangku juga padamu.” Aku mulai berceloteh sendiri.

***
Esok harinya, hari yang dinanti. Aku sudah berpakaian rapih. Aku sengaja memilih jilbab berwarna merah marun, senada dengan rokku. Warna yang serupa juga dengan payung Topan. Ku genggam erat payung itu.
Sehabis sholat dzuhur, papa duduk santai di depan televisi. Sesekali ia menoleh ke arahku yang terus memperhatikan papa.
“Raisa sayang, sabar ya, kata nak Bayu kira-kira setengah jam lagi akan sampai.” Papa terseyum padaku.
“Bayu? Namanya Bayu pa? bukan Topan?” aku berdiri, melangkah cepat ke samping papa. Belum sempat papa menjawab pertanyaanku, pintu bell berbunyi.
“Nah, sepertinya itu dia yang datang. Lebih cepat dari perkiraan.” Papa segera menyuruhku mematuhi perintahnya, “Sayang, kamu bantu mama dulu di dapur. Nanti kamu keluarnya tunggu papa panggil ya.”
Aku mengangguk penuh hikmat.
Ya Allah… siapa Bayu itu? Apa itu nama lain Topan. Jika Bayu bukan Topan, bagaimana kalau Topan datang diwaktu bersamaan?
Beberapa menit kemudian, aku mendengar papa memanggilku. Dengan nampan berisi toples-toples kue, aku berjalan menuju ruang tamu dalam keadaaan bimbang.
Batapa senangnya aku melihat wajah yang sangat aku kenal itu tersenyum. Hatiku berbunga-bunga. Alhamdulilah ya Allah, ucapku penuh syukur.
“Raisa, duduk sayang.” Perintah papa. Aku langsung mentaati perintah papa. Menundukan kepalaku. Duh… jantung ini berdebar sekali.
“Raisa, ini Bayu dan temannya Topan. Bayu, ini Raisa anak om yang selama ini jadi pembicaraan.” Papa tertawa sambil menggenggam tanganku lembut.
Aku langsung menoleh, Bayu?
Tepat di samping Topan, seorang pemuda duduk di hadapanku. Mata kami beradu, dia tersenyum padaku. Aku buru-buru melepas pandangan ke arah Topan. Topan tak terusik, dia malah menepuk-nepuk pundak pemuda yang ada di sampingnya, sambil berkata, “nah, laksanakanlah tujuanmu sobat.”
Bayu tampak kikuk, “perkenalkan saya Bayu Perdana Setiadi. Mungkin Raisa tidak ingat, dulu kita pernah berkenalan di orientasi kehidupan kamus, tapi hanya sebatas kenalan…” aku sudah tidak mampu menangkap apa yang dikatakan oelh Bayu. Hatiku sakit sekali mengetahui bahwa kedatangan Topan hanya untuk menemani sahabatnya, Bayu. Tubuhku menggigil dan air mata rasanya tak berhenti memberontak ingin keluar. aku buru-buru menyeka sebelum orang-orang itu melihatku. Mama yang datang belakanganlah yang banyak menairkan suasana. Sampai akhirnya mama berkata, “Wah, kalian sahabat baik ya. Kalau nak Topan sendiri gimana, sudah punya pasangan untuk wisuda bulan depan?”
Topan hanya diam tersenyum, bayu yang memberi jawaban. “Kalau Topan tante tinggal menunggu hari, sedang dalam persiapan. Saya yang belum berani datang sendiri, mengajak Topan yang sudah berpengalaman.” Jelas Bayu dan semua tertawa. Hanya aku… hanya aku yang sepertinya terluka mendengar perkataan itu. aku semakin tak kuasa menahan tangis. Sebelum aku beranjak pergi aku hanya membisikan sesuatu ketelinga mama,” ma, Raisa belum bisa jawab sekarang,” dan pamit ke belakang.

***

Hatiku hancur tak karuan, kau menagis sejadi-jadinya.
Lamaran itu, jelas akan aku tolak. Tekadku meneguhkan niatku.
Memang belum ada alasan kuat untuk aku menolak lamaran Bayu, pria yang keluarganya melamarku lewat papa. Papa senang bukan kepalang, anak kandung semata wayangnya dilamar pengusaha muda yang kebetulan ayahnya dulu sahabat kuliah papa. Bayu ternyata bukan saja sahabat yang lebih dulu lulus dari Topan, tapi juga lebih dulu sukses dalam karir, kata mama berusaha membandingkannya dengan Topan.

Aku berusaha memejamkan mata, tapi tak mampu bertahan lama. Mataku perih, air mata ini tak berhenti menetes basahi pipiku.
“Tidak ma, Raisa bukan mencintai Topan karena itu. tapi…”
Mama membelai rambutku lembut, “sayang, tidak semuanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan.”
Aku mengangguk. Aku paham itu. Tapi rasa sakit ini, sakit sekali.
“Ma, Raisa hanya minta diizinkan menangis malam ini… malam ini saja ma.” Ucapku. Mama beranjak keluar kamar, menutup pintu perlahan.

Ya Allah,Hamba tahu engkau menciptakan takdir untuk masing-masing hambaMu. Jadikan aku lebih bertawakal setelah melalui malam ini. Izinkan aku mencintaiMu, melebihi sapapun di dunia ini….
berdoa

terinspirasi dari seseorang ^^,
Semangat ukhti cantik. Allah pasti memberi yang lebih baik untukmu, jadikan itu indah pada waktunya. amiiin…
(Firdausi, 18 oktober2009)

terkadang ekspresi itu bisa diungkap hanya dengan gambar….

seperti hari ini….
10

(waktu datang ke kampus dan ngebahas tugas yang menumpuk, pyuuuuh…)

8

(trus agak siangan pas di kampus, berhadapan dengan amanah2 yang ternyata bertabrakan.huwaaaa….)

7

(terkaget-kaget kalau ternyata tugas dan pengerjaan amanah dateline yang sama,OOOh…No!)

4

(hmm…yang ini nocomment, sulit digambarkan.hehe)

1

(setelah semua pekerjaan2 itu terselesaikan….)

yeah, intinya hari ini hari yang penuh ekspresi.hehehehehe^^
*postingan pertama di umur 20 tahun nih, hahaha, semakin kekanak-kanakan saja!*

ketika cinta itu terakumulasi…
ada apa denganku?

aku bertanya-tanya,
rahasia dibalik indahnya bintang di malam hari…

aku bertanya-tanya,
rahasia pelangi setelah turunnya hujan…

dan bertanya,
kenapa senja terlihat lebih indah
saat aku menatap matahari tenggelam di ujung pantai.

aku bertanya-tanya,
ada apa denganku?

jika kisah cinta Ibrahim menghujam relung sukmaku,
maka tanyaku terjawab…
aku mencintaiMu ya Allah.
selalu berusaha,
mencintaiMu.

cinta-alam

-salam damai untuk hatiku^^-

l.o.v.e

“cak, cinta itu memangnya apa?” Bila, adik kelimaku suatu hari bertanya setelah kupindahkan chanel tv dari sinetron ke film kartun Tom and Jerry sembari berkata, “Duh anak kecil nontonnya film cinta-cintaan.” Bila memang pandai bicara dari umurnya sepuluh bulanan, jadi aku sudah biasa mendengar celotehnya.

Aku diam tak langsung menjawab, berusaha mencari jawaban yang pas buat anak berusia tiga tahun. Ku pandangi wajahnya, matanya yang sipit membesar semaksimal mungkin, jernih berkaca-kaca menunggu jawabanku.

“Cinta itu…” ucapku memulai.
“Heee…?” lanjutnya penasaran.
Aku masih memutar otak. “Yah, cinta itu…” ucapku menggantung. Sepuluh detik, duapuluh detik.

Bila memalingkan wajah, fokus ke film kartunnya. Dengan bergegas kupeluk tubuhnya, mengeluarkan jurus ‘kelitik’ agar dia tertawa.
Cinta yah?

Sebenarnya dari semua sumber yang aku baca begitu banyak definisinya. Mulai dari jawaban “cinta itu saat papah bunda sayangin Bila.” Sampe kata-kata shakrukkan “cinta adalah persahabatan” atau bahasa yang lebih tinggi, “cinta adalah cermin dasar jiwa”.
Tapi rasanya belum juga pas maknanya…

Hmm…
Belakangan, beberapa tahun dari saat adik perempuanku bertanya, waktu berasa berlalu cepat. Rasanya tiba-tiba saja adik kecilku Bila masuk sekolah. Memang gak banyak waktu untuk melihat dia berkembang dan tumbuh dewasa.

Aku sadar betul, suatu hari dia akan berkata padaku, “cak, aku jatuh cinta.” Atau, setidaknya walau dia tidak berkata, dia akan merasakan cinta.

Cinta yaaa….

Aku masih ingat mata adikku yang jernih itu…
Sayang, cinta itu, saat kau mengangkat kedua tanganmu, menangis dan berkata, “ya Allah, ijinkanlah aku mencintaiMu dan berikanlah aku seseorang yang mencintaiku karenaMu.”

love_is1

*Seketika ketika aku merasakan semua orang tengah jatuh cinta*
Kostan Firdaus, 1 September 2009 pkl.23.34

Friends…

Hari itu warna awan keabu-abuan. Memang belum gelap betul, tapi aku rasa tak lama lagi hujan akan turun. Hm… aku rindu hujan, aku rindu hujan pertama yang jatuh ke bumi. Saat itu, bunyinya akan terdengar sangat khas. Saat kita sedih, maka bunyinya akan melengkapi kesedihan. Saat kita bahagia, maka bunyinya seolah mendendangkan lagu suka cita. Yaa… semoga hujan segera turun. Harapku.

Jam menunjukkan waktu setengah satu siang. Selesai shalat dzhur di mushalla FISIP UI, aku bergegas turun ke bawah menghampiri mbak Pzp yang menungguku untuk makan siang. Hari ini beliau memang sedang tidak shalat, jadi menunggu di lantai bawah. Kami berdua berjalan menuju kancil (kantin psikologi).

Setelah selesai memesan makanan, kami memulai percakapan seperti biasa.

“Apa topik kita hari ini?” tanyaku menyerumput es teh.

Mbak Pzp ikut menyerumput jus strowberinya, “ persahabatan.”

“Persahabatan?” aku mengulang perkataannya.

Dia mengangguk lalu mengambil sesuatu dalam tasnya, sebuah diary kira-kira setebal 3 sentimeter.
“Kemarin ekee nge-rapihin kamar. Pas lagi bongkar- bongkar ketemulah nih diary. Pas ekee baca lagi, ternyata itu kisah kehidupan ekee jaman SMP. Banyak kisah persahabatan yang ekee tulis waktu itu. Ekee ingat kalau dulu ekee sempat punya genk the blue yang terinspirasi dari boy band Blue asal Inggris. Tuh personil genk cadas-cadas, semuanya masuk dalam pringkat rengking 7 besar. Kerjaan kami kompakan tiap harinya, belajar bareng di sekolah, belajar bareng di tempat les dan bercanda. Ekee juga ternyata sempet punya sahabat cowok yang tiap harinya saling ejek-ejekan. Sampai akhirnya tuh temen naksir ekee, dan ekee jadi males temenan lagi. hehehe. Lucu banget dah. Sampai pada ekee menyadari, kemana hilangnya sahabat-sahabat ekee dulu itu?”

Aku tersenyum mendengar cerita mbak Pzp, “kisah klasik nih mbak? Itu mah cuma satu jawabannya…”

Belum sempat meneruskan kalimat, mbak Pzp sontak bertanya, “apa? Apaan?”

Aku tersenyum lagi (hehe, hari ini lagi murah senyum). “ Simpel, tapi dalem. Jawabannya adalah apakah mbak sendiri sudah sering menyambung silaturahmi? Kalau belum, maka memang benang belum di sambung. Jarak dan waktu memang alasan paling sentro akan hilangnya persahabatan.” Ucapku.

“Lah, itu mah bukan jawaban, tapi pertanyaan.” Keluhnya menyenggol pundakku. Aku menyeringai (kayak kuda).

Kami lalu menyantap makanan yang baru diantar penjualnnya itu. Aku nasi cah kangkung dan mbak Pzp nasi ikan bawal bakar. Keduanya masakan kegemaran kami. Sembari makan, aku mulai berfikir tentang tema pembicaraan hari ini, ‘persahabatan’. Lalu, terbayang-bayanglah beberapa wajah dalam kepalaku.

Sakina Naris Wari:
Sekelebat wajahnya melintas dalam benak.
Hm, wanita yang satu ini orang paling special diantara sahabat-sahabat lainnya. Teman masa kecil yang perannya sangat penting. Mungkin, aku juga sudah menjadikannya bagian dalam keluargaku. Tidak ada sahabat seegois dan sejujur dia yang aku miliki. Walau cuma enam tahun satu sekolah dan tiga tahun duduk sebangku, tapi keakraban kami terjalin juga karena kedekatan rumah. Kami punya hobby yang sama(dulu): membaca komik dan hobby tidur. Aku selalu bangga punya teman yang berjuang demi kesehatannya, Alhamdulilah, dia sembuh juga. Gadis keras kepala yang pertama aku kenal. Berpendirian, kuat dan gak neko-neko. Perkataannya memang kadang menyakitkan, tapi itu semua fakta. Saat aku sedih, maka dia akan membuatku merasa, ‘banyak hal lain yang harus di pikirkan dari pada sekedar memikirkan sesuatu yang membuatmu sesedih itu!”. Saat aku marah, maka dia akan diam seolah tidak terjadi apa-apa, sampai aku puas melampiaskan kekesalanku. Saat aku bahagia, maka dia akan ikut merayakannya. Dan saat aku menangis, maka matanya akan ikut memerah dan dia akan berkata, “sabar ya Puu…”. Dia punya banyak kisah sedih yang kubagi, saat semua orang merasa seolah tak terjadi apa-apa. Dialah sahabatku, sahabat yang punya ibu jago masak, ayah yang cool, dan adik-adik yang berhidung mancung. Allways say love u walau jarak semakin memisahkan kita.

Hujan rintik-rintik mulai turun dari langit. Aku menikmati suara pertamanya jatuh ke bumi.
Udara mulai dingin dan tambah dingin dengan es teh yang baru ku minum. Hiiii…~

“Haha, salah pesen minuman nih.” Mbak Pzp bersuara membalas refleks menggigilku.

Aku melanjutkan deskribsi tentang sahabat dalam benak.
Kini wajah Pipit, Widia, Dayvi dan Yenny muncul dengan senyuman masing-masing. Aku tertawa membayangkan wajah mereka wara-wiri di pikiranku. “Oke-oke… aku akan menjelaskan tentang kalian satu-persatu.” Kataku menenangkan mereka yang lama-lama lompat-lompat gak karuan membuat kepalaku pusing.

Kami menyebut diri kami ‘Kebo gank’. Kebo merupakan singkatan dari Kelompok Bocah. Ini-nih kerjaannya Boting (red: Dayvi yang punya panggilan Bocah tinggi) dan Borang (Bocah girang panggilannya Widia). Mula-mulanya mereka duluan yang memanggilku Bolang (bocah petualang) karena waktu semester satu aku suka nggak ada di kamar sibuk kemana-mana. Lalu mulailah panggilan itu beredar ke pipit sebagai Bodur (bocah tidur) dan Yenni sebagai Bogil (bocah gila). Semakin-lama panggilan itu semakin melekat di diri kami^^ dan jadi aneh aja kalau manggil Boting dengan nama Dayvi. Hehehehe.
Sahabat? Ga ada yang bisa menarik titel ini dari mereka berempat. Walau kami ga selalu akur, tapi hebatnya kami berlima saling melengkapi. Si warid yang kerjaannya bikin ketawa (walau hanya dengerin dia ketawa), dia selalu akan menyingkir jika di antara aku, pipit, yenni, dan dayvi mulai ngebahas hal serius dan berujung dengan suasana yang tegang. Dia juga paling muda, jadi kalau manjanya kumat kami cukup sadar umur. Hehehe. Entah kenapa, rasanya kami semua sepakat sayang Widia. Beruntung sekali bocah ini…

Boting (Dayvi), gak pernah nyangka kalau anaknya gokil abiz. Kalau warid yang paling muda, maka boting yang paling tua (haghaghag, ampun ting). Dia juga yang terlihat paling rajin bebersihan. Kalau pikirannya rumet dikit, pasti deh langsung “ngepel-ngepel”. Dia juga ajaib dengan segudang kosa kata lucu dan sikap aneh bin ajaibnya. Tapi, di balik semua kegilaan Boting, dia cukup bisa diandalkan, pengertian dan sahabat curhat yang enak dipercaya. Dia bisa memposisikan dirinya dan membuat rasa aman. Pantas deh, ada sahabatku yang suka dia. Hihihi… mulai keluar topik deh.

Pipit. Rasanya kayak deket ma kakak perempuanku. Semua masalahku tumpah ruah ke Pipit. Kalau aku nangis, dia bisa ikut-ikutan nangis. Gak jarang suka di marahin sama Pipit, wajar sih karena aku bandel dan seenak udel. Pipit itu santun, perasa dan pekaan. Dia juga orangnya suka ga enakkan. Duh, dapet banget deh Jawanya,hoho^^. Kadang kami berdua suka bertengkar dari hal yang ga penting sampe yang paling penting. Kata Pipit, aku dan dia suka nggak nyambung. Hwaaa…. Denger itu aku jadi sedih banget. Apalagi kalau dia lebih belain orang selain Kebo di banding aku, hmm… irinya (tapi akunya juga sering salah,hehe). Tapi jujur, aku selalu kangen kalau kami jauh.T.T ampun piiit…

Kalau Yenny, si Ukh,Ukh atau Yenyen.. jarang panggil dia bogil. Kesan orangnya emang lembut, tapi sebenarnya dia itu buas! Hahaha, becanda ding. Yenny itu kuat, kuat itu Yenny. Selalu ada semangat kalau inget dia. Hm… Allah selalu sayang sama Yenny, dan Yenny selalu memberi yang terbaik. Banyak hal yang terkadang di salah artikan, tapi kita selalu punya cara untuk tetap bersaudara^^. Sahabat yang saling menguatkan itu Yenny. Banyak hal yang bisa dipelajari dekat dia. Kayak si Bikun. Ups! Kok jadi nyempil si bikun?

Tiba-tiba si bikun ikut nyempil di rombongan Kebo. Wah, ni ukhti….
Bikun itu sebutan buat wanita perakit bom yang paling di cari di Dunia: Indonesia: Jawa: Depok: Asrama. Hahahaha. Bikun a.k.a Asri (loh, kebalik ya?). Ukhti yang selalu bikin gigit jari (saking kelaparan x yah). Hehe. Kalau aku ini Arkeolog, maka dia pantas jadi objeknya. Hihihi. Senangnya punya temen seperti Bikun, enak diajak diskusi, bercanda dan bercerita. Bawaanya pengen jadi lebih baik aja deket dia. (wah, ada guna-gunanya kali yah?)hehehe. Dan serunya, kami akan tetap terus bersama dalam setahun ini, rutin. Mengejar impian dengan niat yang baik yaa kun, InsyaAllah.

Sekarang Ania Safitri.
Sulit untuk mengatakan seberapa pentingnya dia dalam dua tahun ini. Ania selalu jadi tempat lain untuk membahas hal lain.^^
Nah, mereka itu sahabat-sahabatku…

“Bun, lah aku sama man-mannya gimana?” suara Icem terdengar berbisik di telinga.

“Duh, sabar yah sayang. Nanti pasti bakal di ceritain, tapi setelah si mbah dan manusia besi dulu yah” balasku. Icem cemberut. Hihi, lucu sekali ekspresinya.

Si mbah, sebut saja dia begitu. Dia salah satu sahabat yang paling berjasa dalam kehidupan di kepengurusan F07. Zaman-zamannya beranjak dari remaja menjadi dewasa (yakin?)hehe. Kenal mbah, kenal juga yang namanya setan ke tiga, hijab, rok, kaos kaki dan bla-bla-bla (hehehe, kemana aja kamu neng?). Beliau ini (Beliau?? Maklum, udah tua) seperangkat dengan nasehat-nasehatnya, sindiran-sindirannya, dan pengaruh-pengaruhnya. Karena sering berinteraksi, jadi seolah-olah kenal luar-dalem-luar lagi (hehe). Tapi sebenarnya g sebegitunya, karena beliau ga begitu banyak terbuka tentang dirinya (beda banget yak dgn penulis,hihi). Tapi jujur beliau bisa dijadiin bala bantuan setiap kali pikiran rumit. Terimakasih banyak Sob… jadi inget kata, “seandainya saya laki-laki…”. Tapi beneran deh, pasti ente sudah punya banyak bekas memar di bagian wajah. Tapi mungkin itu yang membuat nantinya semua jadi lebih baik. Hahahaha.

Manusia besi, ayahnya Poci, orang thailand,juru tengah kalau terjadi perang dunia antara ketua F07 atau sindiran-sindiran orang-orang tertentu, tempat sampah setelah Kebo, pawang, pak ustad, orang yang suka ngeledekin di F07 (bahkan dia ketua perkumpulannya), special pak dokternya si black-black, tempat pinjem PCMAV dan update ANTIVIR, omnya Choco, orang yang suka bilang “semangat gadis cengeng!” dan bla-bla. Tapi itu dulu. Tapi tetap sahabatan kan yak (loh, kok nanya?). Ga akan pernah mau kalah dengan semangatmu, ga pernah mau ketinggalan^^! Kalau sampai terjadi, tinggal hubungin bikun biar ngeBOM tuh gedung tempat perkumpulan akhi-akhi. Hahaha.

“Dor! Kok bengong aja neng?” Mbak Pzp mengagetkan lamunanku.

“Tuh cah kangkungnya bisa basi kalau kelamaan dianggurin,” tambahnya lagi.
Aku mengangkat garpu, menyedok kangkung panas dengan aromanya yang khas. Belum sempat kangkung mendarat di mulut, suara itu menghentikanku.

“Ibbuuuuund… mana? Kok aku dan man ga di sebuuut??”
Aku tersentak. Untung kangkungnya belum sempat masuk, nanti aku bisa batuk-batuk.

Hehe, lupa chem…
Langsung sepaket icem ma man. Dua makhluk yang jadi sahabatku juga. Mereka rame, asik dan enak diajak bercanda. Icem itu kayak adik, hobby nonton. Senangnya berbagi dengan dia. Sedangkan Man, selalu ada hal lain dari hidup yang bisa kita lihat berbeda. Keduanya menjadi pelengkap disaat dan waktu yang tepat.^^
Nah, bereskan!?

Aku menyendok lagi kangkung yang ku pesan tadi. Hap, ku akan dengan lahap.

“Subhanallah, ternyata aku punya begitu banyak sahabat. Begitu banyak yang menyayangiku. Senangnya^^” Kataku ke mbak Pzp. Dia tersenyum dan berkata, “Di jaga baik-baik ya neng. Jadikan itu sesuatu yang indah di dalam hidupmu.”

Aku tersenyum.
Yah, Allah selalu memberiku yang terbaik.lizzie_kate_friendship_pillow_top
-ceritaku untuk umur 20 tahunmu-Kostan Al-Firdaus, Sabtu, 22 Agustus 2009 Pkl. 23.20 wib. –ngantuk(-.-)zz-

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” ( An-Naml:19)

Dug…Nyezzz….

Hati mbak berinisial pzp ini langsung bergetar ketika menemukan ayat ini. Sebuah do’a Nabi Sulaiman ketika beliau mendengar perkataan semut yang hendak menyelamatkan diri dari injakan kaki rombongan Nabi Sulaiman.

Subhanallah, do’a yang indah tentang nikmat bersyukur dan harapan kepada jiwa manusia akan rahmat-Nya. Cukup lama mbak Pzp tidak mendengar do’a ini. Jadi ketika meneruskan membaca Al-Qur’an, do’a ini menyegarkan sekali di kisah sekelumit rumitnya hati kali ini.

Pyuuuh… hari ini hari yang cukup luar biasa setelah kemarin sempat bersendu-sendu dengan hati. Pzp mulai bercerita seenak jidatnya… (dan aku mulai menulis semua perkataannya dengan setengah terpaksa karena lelah).

“Ternyata efek tidur nyenyak itu nikmat banget buat esok harinya. Sebenarnya bukan nyenyak tidurnya sih yang jadi hari ini cukup berkesan, tapi kejadian setelah berangkat ke kampusnya. Setengah hari ini seperti hari kemarin masih disibukkan dengan PSAF non Reg dari LDF (sebut saja itu^^). Ngatur-ngatur maba buat shalat berjemaah dan promosi tentang kegiatan terdekat LDF. Setelah briefing panitia selesai, ekee langsung melesat buat ngurusin IRS siak NG. Nih lagi kerjaan yang memakan waktu cukup panjang dengan masalah ‘shopping’ matkul di FIB. Udah itu beribet dan bentrok semua dengan jadwal kuliah wajib prodi, bikin gigit jari. Alhasil mesti minta pendapat PA yang sibuk luar biasa. Untung ada mba E (sebut saja begitu) yang cukup dipercaya buat ngasih masukan. “ mbak Pzp komat-kamit semangat berceloteh.

Belum kelar satu urusan siak men-siak, acara penyambutan maba nonreg-pun kan dimulai. Melesatlah seketika mbak Pzp ke mushalla, rumah ke tiga yang sejuk nan damai (ini kalau akhwat-akhwatnya ga berisik^^). Sampai di sekre LDF, ternyata ada rapat mentoring LDF buat MABA nonreg. Entah ada felling apa, tapi tuh kaki si mbak gak mau beranjak jauh dari rapat Pembinaan itu. “Okelah… sebagai psdm yang oceh, kayaknya pembicaraannya mesti dikupingin” niatnya dalam hati. Tapi ,mungkin udah di gariskan sama Gusti Allah, entah kenapa mentor akhwatnya kurang satu, kebetulan beliau yang bertugas lagi sakit dan mesti di gantiin sementara. Semua mata memicing ke arah mbak Pzp yang sok sibuk ngerapiin rak-rak sekre yang penuh dengan kardus-kardus coklat dan beberapa barang penting.

“Awalnya firasatku nggak enak sih, kayak ada angin klinton yang berhembuuusss. Tapi ketika mbak pembinaan itu minta tolong, rasanya gimaaaannaaa gitu… jiwa psdm yang siap membatunya terpanggil. Toh juga katanya cuma satu hari aja, jadi nggak masalah gantiin mentor aslinya dulu. Abiz itu langsung berniat ngacir deh.” Cerita mbak Pzp agak lebay.

Lanjut cerita, si mbak Pzp menjadi mentor ‘sementara’ di acara PSAF special LDF itu. Keringet dingin sempat jatuh bercucuran… “ Ya ampun booo… superwomen kali mendadak jadi mentor. Ilmu saya baru sedikit, ga nyampe seujung jari. Ngaji aja masih kayak batu bata, ups, maksudnya terbata-bata. Hapalan surat, boro-boro bisa capcipcus, masih bisa di itung jari. ‘Melingkar’ aja masih ga rutin karena lagi liburan. Gak cucok banget deh eke jadi mentor. Jadi wajarlah ya bo eke deg-deg-an ngadepin anak orang walau masih tahap ta’aruf-an.” Celotehnya lagi.

Mbak Pzp tambah syok ketika melihat maba ‘bagiannya’ melingkar. “Busyet dah, sekalinya jadi mentor langsung dapet tiga belas manusia. Subhanallah…” decaknya dengan hati gak karuan melihat jumlah mabanya jauh lebih banyak dari lingkaran yang lain. Ia cepat- cepat beristigfar…

Ya Allah, ampuni hamba ini yang selama ini gak memanfaatkan waktu dengan baik untuk belajar lebih banyak mengenal-Mu. Maafkan jika nanti kesan pertama hamba ini malah membuat calon pemilik hati syurga tak tergerak, mungkin banyak yang jauh lebih dapat menggerakkan hati-hati mereka kepadaMu. Tapi izinkanlah aku memulainya dengan niat yang baik, dan urusan hati kuserahkan utuh kepada Engkau, ya Rabb.

“Sungguh ekee grogi… kok keliatannya maba-mabanya jauh lebih pintar dari ekea ya?hehehe. Mana dari awal sampai akhir kayaknya ekee mulu yang capciscus sok interaktif, walau sebenarnya ekee takut salah ucap.” Curhat mbak Pzp dengan wajah layu.
Begitu acara selesai, mbak Pzp langsung berniat laporan ke mbak Pembinaan tadi. Belum sempat berbicara apa-apa, dengan wajah senang dan harunya mbak pembinaan menyalami mbak Pzp, “Jazakilah khairan mbak, ane bersyukur sekali ente bisa membantu. Semoga ini jadi ladang amal kita dan mentor ini diteruskan mbak dengan suka cita.”
Gubrraak! Mendengar penuturan itu mbak Pzp hampir-hampir mau pingsan. (lebay lagi nih). Kini ia berada di tengah hati dan pikirannya.

Pikiran: “Gile lu, mang lu pikir ilmu lu dah setinggi apa berani membimbing tuh tiga belas anak orang yang setengahnya cukup tertarik dan setengahnya lagi asik main hp and bengong saat mentoring tadi?

Hati: “ya ampun Ukhti, kapan lagi? Ingat tuh kata mbak pembinaan, L-a-d-a-n-g -a-m-a-l. Nunggu ilmu setinggi gunung Fuji? Kapan mulainya?”

Mbak Pzp masih terbengong-bengong. Ia teringat lagi dengan diskusi panjangnya bersama mbak Asry (nama sebenarnya) suatu malam (sampai pagi) tentang dakwah. Panjang lebar mbak perakit bom itu(Astagfirullah, takutnya kebaca satuan anti teroris, sebenarnya ini hanya julukan sayang kok,hehe) menjelaskan tentang tipe dakwah: dari yang sedikit ilmu langsung disalurkan sembari menambah lagi hingga tipe memperbanyak ilmu sampai merasa mampu baru disalurkan.

Di tengah kebimbangannya, tiba-tiba terdengar suara merdu seseorang dari balik hijab sana (Kadiv pembinaan nih^^). Beliau menceritakan kisah seorang anak kecil berumur 6 atau 8 tahun (afwan… eke lupa) yang menghampiri Rasulullah saw dan berkata bahwa ia ingin masuk Islam. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk meminta izin kepada kedua orang tuanya yang masih hidup dalam kejahiliyahan. Di tengah perjalanan, anak kecil tadi berfikir, ‘ jika Rabbku meniupkan rohku kedalam rahim ibuku dengan tidak meminta izin, kenapa aku harus meminta izin terlebih dahulu untuk menyembah Rabb yang telah menghidupkanku?”

Subhanallah, mata mbak Pzp berkaca-kaca mendengarnya. Anak sekecil itu saja sadar betul akan kehadiran Rabbnya… pikirnya.
Apalagi ketika suara dari balik hijab menambah cerita tentang kelompok kecil ‘lingkaran’ Rasulullah saw yang melahirkan sahabat-sahabat pejuang Islam gagah berani plus motivasi kebaikkan di dalamnya. Sudah deh… nggak ada alasan lagi buat si mbak Pzp menangkis tawaran itu seperangkat dengan tanggung jawabnya. Eits, tanggung jawab? Dengan cepat ia mengingat buku coklat pink dengan judul Aqidah Islami yang disodorkan mbak Asry beberapa minggu kemarin yang gak sempat di hatamkan dengan alasan ‘sibuk’(boro-boro hatam, baca aja baru beberapa belas lembar : p) yang kini sudah di tagih sama empunya.

“Yak, eke kudu baaannnyyaaaaak belajar lagi. Mulai lagi dari Aqidah Islaminya!” Tegasnya dalam hati. Ia langsung terbayang sosok kak S yang mengisi mentoringnya selama ini, keibuan, bijaksana, berilmu dan dapat diandalkan. Pyuuuuuuuh…. Mbak Pzp jadi lemas, “ueks, jauh banget sih ekee.”

Di sepanjang jalan yang ia telusuri, mbak Pzp mengingat-ingat lagi kejadian setahun silam. “Duh, kenapa hidup bisa cepat keputar gini yak? Perasaan baru juga tahun kemaren ribut sama Big masalah rapat FORKAT (okey) dan setan ketiganya. Dapet bawelan Big masalah nongkrong malem-malem di kantin (hehe, bahasanya).Baru juga genap setahun buat manjangin jilbab beberapa senti. Setahun kemarin juga baru sibuk-sibuknya cari kaos kaki. Lucunya, belum juga genap setahun kemaren janjian ma temen buat izin mentoring karena males-malesan. Subhanallah… kalau bukan atas izin Allah, siapa lagi?

Mbak Pzp jadi teringat juga dengan sahabatnya yang ada di ppsdms. Wah, kalau ingat orang itu mbak Pzp jadi suka emosian, “yaelah, dia bisa, kenapa kamu enggak?! Katanya nggak mau kalah semangat? Ayo,ayo, semangat. Belum juga di coba udah lemes2an.” Semangatnya dalam hati.

Sampai di tempat tujuan (ruang departemen) buat ngurusin irs-irs-an, mbak Pzp bergegas ke bilik mbak E buat konsultasi matkul. Curhat demi curhat mengalir dengan indah sampai akhirnya mbak E menyarankan untuk mengambil matkul prodi Hubungan Internasional. Lebih tepatnya sih tidak menyarankan, tetapi memaksa! Busyet, bahkan si mbak E bilang, “udah sekalian aja kamu ambil 24 sks, biar kamu cepat lulus, kamu mau 3.5 tahun kan? Sana cari matkul di HI!” perintahnya. Mendengar itu mbak Pzp langsung bereaksi…”OGAH! 3.5 tahun sih mau mbak, tapi kalau ngambil matkul HI, apalagi 24 dengan MPS-an (salah satu matkul menyeramkan), ekee ogah dulu ah, smester depan. Eke masih dag-dig-dug.” Mendengar itu, bukannya mbak E paham (dengan segala macam alasan), malah beliau mengancam untuk tidak meng-acc IRS jika sarannya diabaikan.

“Kamu takut? Katanya kamu mau bisa? Mau dapet ilmu lebih banyak? Kenapa mesti ditunda-tunda?”

Yah, tanpa bag-big-bug, mbak Pzp dengan gontai ke prodi HI, mencatat keperluan buat surat kelas eksternal dan memutuskan memilih matkul HI: dinamika kawasan timur tengah dan afrika. Begitu diajukan ke mbak E, beliau senyum-senyum sambil bilang, “nah gitu dung, inikan temanya tepat sama tema rencana skribsi kamu.” dengan wajah meyakinkan. Gubrak!

“ Bahkaaan… mbak E sudah menyiapkan tahapan rencana skripsi ekee…” takjub mbak Pzp dalam hati. Mata mbak Pzp kembali berbinar-binar (ini mah kelilipan^^)

Ya Allah, satu lagi keputusan yang hamba buat yang dapat merubah kehidupan hamba lima tahun ke depan. Bisiknya dalam hati.
Mbak Pzp berhenti dengan ceritanya hari ini. Matanya tampak lelah tapi berusaha tak ia padamkan. Dalam hatinya ia berharap segala curhatannya ini bisa jadi motivasi rotasi kehidupannya untuk melangkah lebih maju, bukan berputar kebelakang atau berguling-guling tak karuan. Harapannya agar ketika langkahnya mulai goyah, ia bisa menilik lagi tujuan awalnya. Nikmatnya langkah pertama untuk sampai pada akhir yang indah. Ia memelukku erat sambil berbisik:
Ya Rabb, anugrahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku… agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai…

“Niatkan semuanya hanya untuk Allah SWT ya mbak Pzp…”
-Pesanku untuk umur 20 tahunmu-
Kostan Al-Firdaus, Kamis, 20 Agustus 2009
Pkl. 01.20 wib. –ngantuk(-.-)zz-

pantai-ide1

…………………
hitam
Ternyata hujan…Dan mataku menangkap jatuhnya satu-satu. Kini udara jadi dingin. Dan suara detik jarum jam melebur dengan sakitnya bumi dijatuhi air dari langit. Aku diam. Ternyata hujan.
Aku jadi rindu bintang. Apa dia singgah sembentar malam ini? Untuk sekedar menyapaku.
Hm, sepertinya tidak. Ia akan bersembunyi di balik selimut malam yang hitam, kedinginan.
Aku beranjak ke depan cermin. Apa kabar cermin? Sapaku. Hening. Cermin itu membisu. Entah sudah berapa kali aku berceloteh dengannya hari ini, sekedar berbicara tentang dunia yang semakin memanas, tentang kemiskinan yang kulihat semakin mewabah seperti penyakit flu baru yang ditakuti orang-orang dewasa ini. Tak lupa, aku sempatkan menceritakan kabar yang kudengar dari radio ‘sang penyebar berita’ tentang kondisi perpolitikan, dari bahasan kematian Aquino sampai kursi DPRD yang masih wara-wiri tidak jelas. Seru sekali pembicaraan kami terakhir tadi.

Aku menatap wajah yang terpantul. Hey cermin, jangan meledekku. Jangan tampilkan wajah jelek, kusut dan tampak bodoh seperti itu, aku jadi malu. Lihat, betapa banyak bintik hitam di wajahku. Lihat betapa amburadulnya rambutku. Bagaimana dengan lemak di perutku? Oh, jelek sekali. Lihat, betapa sayunya mataku. Garis-garis di bawah mata itu… Oh, tidak-tidak. Enyahkan tampilan itu. Aku tidak mau lihat. Aku tidak ingin kepalaku terisi dengan tawaran iklan-iklan kecantikan yang muak sekali kulihat di telivisi. Aku tidak ingin terjerat. Ah, aku pergi saja darimu. Kamu menertawakanku. Kamu tidak mau menuruti perintahku. Baiklah, kita teman. Aku tidak berhak memerintahmu. Biar aku saja yang pergi, sampai kau mau berbicara lagi denganku. Sampai kau jauhkan tampilan burukku.

Hujan masih turun…
Hatiku tidak tenang.
Kusapa genteng saja. Aku ingin menyapanya dari balik jendela, agar aku tidak basah karena hujan.
Hai, genteng, apa kau basah? Genteng tertawa. Yayayaya…pertanyaanku terlalu bodoh rupanya. Baiklah, apa kau baik-baik saja? Hujan kiranya datang tiba-tiba, padahal kita lihat bersama tadi mentari bersinar sangat menyengat dan kau mengeluh karena kau tak tahan dengan panasnya. Ya, hujan datang tiba-tiba, tapi kau suka. Aku mengerti. Setidaknya beberapa hal kupahami, kau bisa membersihkan diri dari debu-debu beberapa minggu ini, kau bisa terhindar dari panasnya si matahari galak itu. Hmm..apalagi? yaya, kau benar, beberapa genteng lain di seberang sana girang jika hujan datang; mungkin majikannya akan cepat pulang, mungkin ada banyak adegan pertemuan di balik atap yang sama, sahabat lama mungkin, kenalan baru, atau mungkin pertemuan dengan pasangan hidupnya. Ada banyak alasan kau menyukai hujan. Hmm, kau bilang apa? Ada hal yang lebih indah? Baiklah, aku paham lagi. Kau bilang akan banyak orang bersyukur memiliki atap dengan genteng-gentengnya yang bejejer rapi. Kau benar sekali. Setidaknya itu yang ku pikirkan saat hujan tiba-tiba datang. Pasti kau senang sekali genteng. Genteng-genteng di luar sana juga tak kalah senang jika ia berguna bagi orang lain. Tapi bagiku tak hanya kala hujan saja aku bersyukur, sebaliknya juga kala panas. Aku senang kau melindungiku. Senang berbicara padamu. Tapi aku baru saja mendengar jam memanggilku. Rupanya sudah waktunya aku duduk rapih di kasur. Jadwalnya nenek lampir itu memberi obat. Apaa? Kau tidak tahu siapa nenek lampir itu? Ya ampun, sudah berapa lama kita berteman? Hampir setahun bukan? Baiklah, kuberi tahu kau. Nenek lampir itu ya suster yang setiap hari mengantarkan makanan dan obat di pagi, sore dan malam hari. Kau paham? Ya, nenek lampir. Aku tidak suka caranya memaksaku minum obat seperti orang sakit. Padahal semua sahabat-sahabatku di sini juga tahu kalau aku ini sehat. Iya kan? Yah, terimakasih atas anggukanmu. Aku tahu kalian semua berbohong.
Aku duduk di kasur.

Hujan masih turun.
Lima menit, aku masih sempat tertawa melihat pot bunga. Sepertinya dia merindukan setangkai bunga di dalamnya. Kasihan… seandainya aku bebas, aku akan meletakkan lily di dalammu teman.
Cklreeekk… suara pintu yang terbuka. Nenek lampir datang.
“Selamat sore nyonya, ini obat nya silahkan diminum.” Aku menelan pil-pil itu dengan air sekali teguk.
“Apa anda menghidupkan telivisi hari ini? Aku melihat suami anda diwawancarai wartawan. Ternyata saham perusahaan batu bara anda melejit naik. Selamat…” suster Devia, ia tersenyum padaku.
“Devia, “ panggilku dan langsung dijawab hormatnya,”iya, nyonya?”
“apa ia akan pulang malam ini?”
Devia tak langsung menjawab, “hm… saya rasa mungkin belum, sa..saya tadi mendengar dari mbok Minah yang mengangkat telpon dari bapak untuk menyiapkan baju-bajunya dan disuruh mengantar ke pak Darjo supir pribadi bapak yang nanti malam datang. Sepertinya bapak akan pergi ke luar negeri lagi.”
Aku melemas, mungkin efek obat.

Hujan masih turun…
Hatiku jadi sakit melihat hujan itu turun rintik-rintik, tak selebat tadi.
“Nyonya, nyonya harus sehat, jangan banyak pikiran. Sekarang cepat mandi, lalu berpakaian yang bagus.” Devia menarikku ke kamar mandi, aku merengek.
“tidaaaaak…aku tidak mau mandi Devia…. Dinggin. Tinggalkan saja aku, aku tidak mau mandi.” Devia masih menarik lenganku erat. Tidak, aku tidak mau mandi. Aku takut dengan dinding kamar mandi, kata cermin, dinding kamar mandi galak. Kemarin pas mandi, dinding kamar mandi melotot padaku. Cermin bilang kalau dinding kamar mandi benci padaku entah karena apa. Oh tidak, aku tidak mau mandi.
Aku berhasil menghentikan langkah Devia.
“Nyonya, anda tidak maukan kalau saya sampai harus mengikat nyonya?!” Aku buru-buru menggeleng. Devia jahat! Dasar nenek lampir!
Selama mandi, aku memejamkan mata. Aku tidak mau melihat dinding kamar mandi.
Divia mengelap badanku yang basah, ia giat sekali. Gadis ini, aku bertemu dengannya setengah tahun yang lalu, tepat terakhir aku melihat suamiku. Aaaaah, aku benci mengingat pria penakut itu.
Memangnya kenapa jika Tuhan mengambil Zaskiya dari pelukanku? Bayi munggil itu sudah di surga bertahun-tahun yang lalu. Aku sadari itu sudah takdir. Tapi ia masih membenci dirinya, diriku. Ia benci kemiskinan kami dulu, maka ia marah dengan harta. Ia terus mengejarnya. Ia benci ketika tidak mampu membiayai oprasi paru-paru Zaskiya yang sangat mahal. Ia benci dengan perusahaanya yang bangkrut dulu. Ia benci pada teman-teman yang tidak mau membantunya. Ia penuh benci, bahkan padaku. Ia benci karena aku begitu rela melepaskan Zaskiya ke Rabbnya. Ia benci aku yang merasa tidak pernah sendiri walaupun ditinggalkannya. Toh, aku masih punya teman bicara. Ada cermin, ada genteng, ada jam dinding, ada pot bunga, dan mungkin juga Devia. Maka dari itu, dia tidak pernah mau melihatku lagi. Kata-kata terakhirnya adalah aku mengingatkan kepada masa lalu yang kelam. Ah, kenapa tidak dia ceraikan saja aku? Bukannya aku sudah tidak mungkin punya anak lagi? Ya… dia pasti masih mencintaiku. Sayangnya, walaupun ia meninggalkanku, tapi aku yang akan meninggalkannya terlebih dahulu.
Devia membantuku mengenakan pakaian, menyisirkan rambutku dan membedakiku. Rambutku rontok lagi. Sepertinya waktunya akan tiba. Jam membisikkanku kata itu. Waktunya akan tiba.
“Dev, berapa lama lagi waktuku?”
“nyonya…”Devia protes,” nyonya harus kuat.” Lanjutnya menyemangatiku.
Beberapa hari lagi. Tiba-tiba seekor nyamuk hinggap di bahuku. Membisikkanku. Beberapa hari lagi.
“Berapa lama lagi!!?” aku berteriak. Devia tersentak. Devia kaget. Aku menatapnya lekat.
“kata dokter, ka..katanya, tak lama lagi nyonya. Kanker nyonya, kanker itu… su, sudah menyebar. Tapi nyonya jangan khawatir. Buktinya setelah teratur minum obat, nyonya jauh lebih sehat.” Devia berusaha menyemangatiku. Tak masalah, aku sudah tahu dari nyamuk. Walau tak begitu pasti, nyamuk ini bisa kupercaya.
Aku tersenyum pada Devia, matanya berkaca-kaca.
“Sudahlah Devia, aku sudah tahu dari nyamuk. Aku juga sudah menduganya dari dulu. Hahahaha…”aku mulai tertawa. Cermin kini mulai berbicara lagi. Selamat, sebentar lagi mungkin kamu akan bertemu bidadari kecilmu, katanya.
“Dev, jika aku mati nanti…. Yayayaya… semua orang pasti akan mati bukan? Hahahaha” aku tertawa lagi, “Dev, jika suamiku belum juga pulang menemuiku, jika aku tak sempat melihatnya tuk terakhir kalinya lagi, boleh aku titip pesan padamu?” tanyaku memegangi tanggannya. Devia meneteskan air mata. Aku menyekanya. Air matanya dingin, sama seperti hujan. Sebab itulah aku benci hujan… hujan dingin, hujan membawa kesedihan, hujan seperti air mataku yang lama tak mengalir. Terakhir ketika aku merasa sangat sedih… hujan juga datang tak diundang.
“Dengarkan baik-baik. Tolong sampaikan pada suamiku, aku mencintainya sampai kapanpun. Sungguh aku tidak mencintainya karena hartanya, atau menyalahkan harta sebagai pelariannya. Jangan pernah lari dari masa lalu. Juga…jangan bersedih kehilanganku. Aku begitu mencintaimu dengan sederhana. Dengan menanti kapan kau kembali. Tapi tak masalah. Setelah aku mati, carilah isteri lagi…aku merekomendasikanmu dengan Devia…” Devia menyikutku,”nyonya…” tangisnya terisak. Pot bunga ikut-ikutan terisak. Aku tersenyum pada Devia dan pot bunga.
“carilah istri yang tak gila seperti kata orang padaku, lalu punya anaklah… aku dan Zaskiya akan selalu mendo’akan kebahagianmu. Bisakan Devia? Kamu bisakan menyampaikannya?” tanyaku meyakinkan diri.
“Nyoya, saya akan menghubungi bapak lagi. Saya akan membujuknya untuk segera mungkin bertemu nyonya. Nyonya sabarlah…” Devia memelukku. “Tidak Devia, aku tidak ingin kamu membujuknya, biarkan ia datang dengan sendiri. Tadi nyamuk barusan bilang kalau dia tidak akan datang. Jadi, maukan kamu menyampaikannya?” Devia mengangguk, lalu tergesa-gesa meninggalkanku sembari menyeka iar matanya.
Ternyata Devia secengeng itu, celetuk cermin. Aku menghampiri cermin. Kali ini dia menampilkan wajah yang cantik dengan wajah yang bersih dan rambut yang rapih. Nah, apa yang akan kita bahas kali ini? Tanyaku pada cermin. Pot bunga berseru ingin ikutan.

Hujan masih turun, rintik-rintik.
Kata orang aku gila karena aku bicara dengan benda. Kata orang ini karena aku kehilangan anakku, tapi sebenarnya tidak. Aku tidak pernah tidak ikhlas. Semua itu hanya kata orang, nyatanya…aku memang bisa berteman dengan benda, bukan karena gila.
Puspa Widya Kencana,
Al-Firdausi, 5-08-09.

“Aku begitu mencintaimu dengan sederhana. Dengan menanti kapan kau kembali…”

Hari ini aku membersihkan almari ummi yang usang itu. Berkali-kali aku bilang pada ummi untuk membuangnya saja, sebab almari itu sudah tak sedap di pandang mata. lagian juga, aku sudah membelikan almari baru untuk mengganti almari pakaian ummi dengan ukiran kayu yang lebih bagus. Tapi ummi bersikukuh untuk mempertahankan almarinya.
“ini lemari zamannya ummi masih muda. Barang pertama yang di belikan Abimu waktu pertama menikah.” Jawab Umi bernostalgia. Yah, aku jadi tidak tega membuang kanangan Ummi ini, walau setiap kali melihatnya aku jadi ingin memindahkannya. Tak apik dengan gaya kamar Abi dan Ummi yang baru aku rombak beberapa hari lalu.

Ummi dan Abi sedang tidak ada di rumah untuk dua minggu, pergi menjenguk Ali di Cilacap. Ini saatnya aku membersihkan lemari Ummi. Sebagai seorang arsitek dan ahli tata ruang, aku ingin menyulap setiap sudut rumah ini menjadi indah dan nyaman-termasuk menserasikan barang-barang-. Sudah lama aku tidak membersihkan rumah, mungkin empat tahun sudah saat aku berangkat sekolah ke Jepang. Sekarang aku ingin memberi kado kecil pada Ummi, mensulap kamarnya menjadi lebih indah.

Aku mengeluarkan baju-baju Ummi dari lemari. Gamis, kebaya, dan Tapis lama terbungkus rapi di gantungannya. Mataku menangkap sebuah amplop berwarna biru muda yang lembut dengan pita berbentuk bunga terjepit di sudut lemari. Ku buka amplop itu. Sebuah surat…

Surat untuk buah hatiku

Sayangku…
Tak akan ku sangsikan, engkaulah nantinya separuh dari nyawaku.
Kau yang akan jadi pelipur lara dan do’a-do’a di setiap malam panjangku.
Kan ku habiskan air mataku untuk memohon kebaikan untukmu, agar kelak kau jadi soleh/soleha.
Siapapun namamu nanti, kaulah buah hatiku.
Tak usah kau pikirkan apakah namamu akan terdengar indah.
Yakinlah bahwa Ummi dan Abi mu akan memberikan nama yang mulia padamu. Seperti harapan kami akan kemuliaan yang nanti menghampirimu.

Sayangku,
Tak perlu cemaskan apakah aku kan mencintaimu,
Sungguh, dari sekarang, cintaku sudah penuh untuk dirimu.
Aku sering membayangkan bagaimana kelak kau tumbuh dalam perutku,
kau akan membesar dan mulai memberatkan badanku. Aku akan mulai tertatih-tatih berjalan. Aku akan sulit untuk berlari, berpergian jauh, duduk ataupun tidur. Tapi aku tidak peduli, karena aku sungguh merindukan kehadiranmu. Karena kau adalah sepenuhnya cintaku. Separuh nyawaku kan ikut bersama saat kau lahir. Melihatmu membuka mata untuk pertama kalinya di dunia, mendekapmu, menciummu… aah, tak masalah untukku kesakitan saat mengandungmu. Sungguh tak masalah.
Maka, aku harus mulai berhati-hati saat itu. Aku harus menjaga makanku, agar kau sehat di perutku. Aku harus banyak minum susu, untunglah ibumu ini suka dengan susu. Aku juga akan berhenti tidur malam, kebiasaan ku remaja sekarang. Aku akan ikut senam biar posisimu aman dan aku mudah melahirkanmu. Dan kau tak usah mencemaskanku, aku sungguh mencintaimu.

Nanti, saat takdirmu tuk muncul di hadapanku, itu kan jadi hari paling bersejarah bagi Ummi dan Abimu. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk melahirkanmu. Segala kesakitan itu akan ku tahan karena aku ingin melihatmu, ingin memelukmu, menimangmu, membesarkanmu dengan segenap cintaku. Maka ketika dokter akan membantuku, aku akan berteriak padanya, “Dokter, bantulah aku melahirkan anakku dengan selamat”. Yakinlah, itu akan aku katakan kelak. Atau mungkin, Abimu duluan yang akan mengatakan untuk menyelamatkan kita berdua. Ia pasti akan sangat cemas saat itu. Keringatnya pasti jatuh membasahi badannya. Ia akan mulai mondar-mandir, atau duduk diam sambil berdo’a pada Allah Yang Maha Pengasih agar kita diselamatkan. Jadi tenanglah, Ummi dan Abimu akan berusaha yang terbaik agar kau lahir dengan selamat.

Sayangku,
Saat kau telah berada dalam pelukkanku, akan kutimang hingga kau tidur.
Akan ku dekap hingga kau nyaman.
Akan ku nyanyikan lagu nina bobo kesukaanmu. Ku ayun-ayun, ku belai-belai, ku beri kau makanan terbaik di dunia, asi. Tak akan ku hentikan hingga kau kenyang, hingga kau tumbuh besar dalam timanganku.
Lalu kau mulai berceloteh tentang banyak hal. Tak bisa ku bayangkan betapa senangnya saat pertama kali kau memanggiku, “Ummi…ummi…”. Lalu Abimu akan cemberut dan menghampirimu dalam gendonganku lalu memaksamu untuk memanggilnya ‘Abi’. Tidak beberapa lama, kau akan memanggil namanya. Tak bisa ku bayangkan betapa harunya dirinya saat itu. Sedangkan kau hanya tertawa-tawa kecil dalam linangan air mata syukur kami.

Sayangku,
Tak bisakah kau rasakan cinta sejatiku ini?
Aku sudah memupuknya dari sekarang.
Aku sudah berjanji kan memberi yang terbaik yang aku bisa, jauh sebelum kau lahir. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Tidak akan ku biarkan kau kekurangan cintaku.

Sayang, seandainya kau tahu aku senang bekerja, aku senang meniti karirku, maka ketahuilah dengan benar, aku akan meninggalkannya seandainya kau dan Abimu memintanya. Memintaku tuk menghabiskan waktuku membesarkanmu. Aku tahu itu akan sangat berat… tapi aku sangat ingin kau bahagia.

Sayang, seandainya kau tahu kalau saat ini aku tak pandai memasak, maka ketahuilah, aku akan belajar masak. Aku ingin menyiapkan makanan yang kubuat dari tanganku. Akan kusuapi kau hingga besar dengan setiap do’a kan kebaikkanmu saat kau melahap makanan dari tanganku.

Sayang, seandainya kau tahu kalau saat ini bacaan Qur’anku masih berantakan, maka ketahuilah, aku akan belajar dari sekarang. Aku ingin mengajarimu kelak sepenuh hatiku. Aku kan jadi imam sholatmu ketika Abimu sedang tak di rumah. Maka kita akan merindukan suara merdu lantunan ayat suci dari Abimu. Tapi tak masalah, aku akan berusaha memerdukannya untukmu, hingga kau tetap senang mendengar lantunan ayat Qur’an di manapun kau berada.

Lantas, apa lagi yang kau risaukan buah hatiku? Kau akan tumbuh dalam cintaku yang besar dan tak terputus.

Maka berjanjilah kau satu hal, berjanjilah untuk berdo’a mulai dari sekarang.
Berdo’alah agar Abimu seperti Abi yang kita berdua harapkan.

Berdo’alah supaya Abimu bukan pria sembarangan. Siapapun Abimu kelak, berdo’alah agar ia akan selamanya mencintaiku dan dirimu dalam semua keadaan.

Bantu aku berdo’a agar kau memiliki Abi yang Soleh, yang mampu mengimami kita semua.

Yang setiap senyumnya membawa kedamaian dan setiap marahnya mengarah pada kebaikan.

Pemuda yang ikhlas dan pekerja keras. Memiliki tekad yang kuat dan cinta damai jauh dari kekerasan.

Bantulah aku berdo’a sayang, agar Abimu bisa jadi kebanggaan kita semua.
Kelak, ia yang akan menemani Umimu saat menunggumu datang ke perutku, ia akan ikhlas memerhatikan keselamatan aku dan kau yang terlelap di perutku. Ia yang akan tetap mencintaiku walau berat badanku bertambah karenamu, yang akan ikut menjagamu sepenuh hati.
Dialah yang akan selalu berusaha keras membahagiakan kita semua. Jauh sebelum ia hidup bersamaku, ia telah memikirkan kebahagiaan kita semua. Dalam letihnya bekerja, ia tak lupa berdo’a di tengah malam untuk kebahagiaanmu, agar kau jadi anak soleh/soleha.

Ia yang akan mengajari kita banyak hal tentang agama, mengenal Tuhan kita yang kita rindukan. Ia yang akan membentangkan jalan dan menelusuri bersama jalan menuju syurga.

Mungkin nanti, ia juga yang akan jadi sandaranku saat aku menangis akan tingkahmu. Ia yang akan selalu menyemangatiku untuk selalu jadi yang terbaik bagimu.

Ia juga yang tak putus mencintaiku walau wajahku telah keriput di makan usia, atau tubuhku gendut setelah melahirkanmu. Ia akan terus bersamamaku hingga kelak kau pergi meninggalkan kami dan meniti hidup barumu.

Sayang, kau yang di atas sana, ayo kita berdo’a bersama.
Berdo’alah agar Allah memberikan Abi yang terbaik untuk kita semua. Agar kelak kita bisa berkumpul dalam kebahagiaan dan selalu bersyukur akan cintaNya.

Dari aku, calon Ummimu.

Aku menutup surat itu dengan linangan air mata.
“Ummi… ummiku tersayang.
aku yakin, sebelum aku masuk dalam perutmu, aku juga ikut berdo’a bersamamu…
Aku tak pernah meragukan cintamu padaku, pada Ali adikku, juga pada Abi kebanggaan kita.”

Ku masukan kembali amplop itu berserta baju-baju yang tadi aku keluarkan. Ku tutup pelan-pelan almari Ummi, membelainya.
Ada berapa banyak kisah cintamu untukku kami Ummi, mungkin lemari ini menjadi salah satu saksi.

Puspa Widya KEncana, 29-07-2009
@ kostan Firdausi, pkl. 11.49 wib
Do’a dan harapan.

Teruntuk sahabatku Bikun: cerita pendek kisah cinta… calon istri dan ibu pada calon anaknya^^ (datang dari hatiku)

wah,
kali ini mau nulis apa yah?
inspirasi buat nulis cerpen semakin menumpuk, dari kisah asmara, hidup sampai sindiran politik. Tapi entah kenapa tiba-tiba jadi ngantuk lama-lama depan black2…(red: komputer)…mana dia lagi koma pula,hiks.

hm… masih di sekelumit rumit nya hati… (atau blak-blakkannya ajang ekspos diri). Sejujurnya udah males terlalu mengekspos diri (pasti makhluk di seberang sana sedang menahan tawa sambil berkata, “bohong banget kamu pus”, tapi sutralah ya..hehehe.

ini satu hari narsis dan geernya puspa.
hari itu, selang beberapa hari sebelum memutuskan pulang ke depok yang sudah di tinggal lebih dari 20 hari dengan kondisi hape mati (lupa bawa cash-an), seperti biasa pinjem hape sewaan adik buat main fecebook tiap hari.
Buka inbox, ada 5 pesan masuk. (wah, saya memang selalu dirindukan)hehe.
Dari lima pesan itu, semua isinya menanyakan kapan saya pulang ke depok. Wah, ternyata rindu itu rindu untuk menjalankan amanah setumpuk yang saya tinggalkan. (af1 teman2).
Masih dengan ‘ogah’nya puspa tuk balik ke depok. secara… Lampung seperti sedang ada perang dunia (ini banyak versinya).jadilah sulit tuk di tinggalkan…T.T

Tapi satu pesan yang berbeda. Taradaaaa!!!!
wow, tawaran dahsyat menuju satu impian saya. Seseorang menawarkanya. Nggak ambil pusing, walau bahasa Inggris berantakan (bahkan bisa disebut bisu…^^), walau nggak membayangkan bakal bisa sepede itu, atau se kompeten itu untuk menerima tawaran, tapi puspa langsung ‘mengiyakan’ sebuah ‘proyek’ yang saya sebut ‘proyek impian’.
Hari itu langsung standby di depan kaca… terus ketawa-ketawa ga jelas. “Yeah, kamu bisa.” bisik-bisik tambah ga jelas. orang rumah langsung pada binggung, “kenapa lagi nih anak?”.

yah, itu merupakan salah satu hari paling ga jelas seumur hidup (seperti tulisan ini).hahaha. Tapi positifnya, saya jadi tau kalau ‘impian’, tanpa ‘aksi’ itu bagai berangan-angan. Sedangkan ‘aksi’ tanpa ‘impian’ itu bagai memanah tanpa arah.
Hebatnya, saya jadi sadar arti ‘kesempatan’. ‘kesempatan’ itu di buat, bukan di harap. Layaknya ‘keberuntungan’ bukan datang tanpa diundang, tapi hasil dari ‘kegagalan’. Semakin sering gagal, semakin banyak tindakan, semakin banyak ‘keberuntungan’. (adakah yang mengerti?)hehehe.

ok,ok… lanjut ceritanya.
singkat cerita, melesatlah ke depok dengan 2 tas besar, 1 dipunggung, 1 dijinjing. satu kata….beraaaaaaaaaaat! Sayang ga ada adik laki-laki tercintaku yang siap sedia membantu mbaknya membawa barang2 berat setiap pulang kampung, hiks…. tapi sutralah walau tampang jadi udik karena bawa banyak barang kayak pindahan dari kampung ke ibu kota.

Di bus, dengan angin cepoi-cepoinya (men, hari gini, iriiit…), duduk di barisan kursi tengah. huff… di peluklah buntelan-buntelan tas itu. Baru lima menit nyandarin tubuh, tiba-tiba ada satu makhluk main sikat duduk di samping sambil senyum-senyum ga jelas. Cowok boo…
(ga bisa ngeliat cewek cantik duduk sendirian apa?!)
sejurus kemudian, seperti yang telah di duga, nih orang ngajak kenalan…
“hai, mau kemana? namanya siapa? sendirian aja? dari lampung ya? nanti turun di mana?” Tanyanya sembari menjulurkan tangan minta kenalan.
Busyet dah, langsung di bom bardir dengan sederet pertanyaan dan aksi ekstrim bersalaman.

“loh kok diem aja? kerja dimana? atau sekolah?kok barang bawaannya banyak amat?” Masih dengan tangan menggantung.

ooh GOD!

Langsung dalam hati menjerit…Ryan (nama adik)… di manakah kau berada? rindu hati tuk berjumpa….meski lewat kata (ini ada lirik lagunya loh).

Untunglah diriku inget dengan jurus jitu yang hampir selalu dipraktekan selama prantauan (udah biasa kemana-mana sama adik cowok sih, jadi lupa kalau pernah hidup lama diprantauan sendirian)
“eh, iya…maaf mas, saya ngantuk.”
Trus langsung tutup mata pura-pura tidur.
mas-mas tadi langsung ngedumel ga karuaan dan pergi.
Horeee!!!!
(walau tetap aja duduk dengan mas2 misterius, tapi syukurnya ga banyak omong)

Ceritanya dipersingkat lagi…
Tetap dalam rangka ngirit… dan berangkat ke depok sendiri.
Setelah turun dari kapal Ferri yang bagus-tumben- (tiket nyebrang Bakauheni-MErak cuma Rp. 10.000 loh, VIP tambah Rp5.000-Rp 10.000), langsung cau menuju kp. Rambutan.

Di sepanjang perjalanan sampai tanggerang, puspa terlelap pulas. Tanpa sadar siapa yang duduk di sebelah (tadinya kosong). Untunglah mbak-mbak berjilbab juga. pyuh, busyet dah, tidur kayak orang pingsan… (kebiasaan bersandar sama Ryan nih).
Lirik sana-lirik sini, ternyata bus yang tadinya kosong kini jadi sesak dengan penumpang yang berdiri.
Tap!
Pandangan bertemu dengan seorang pria yang berdiri tidak jauh dari kursi. wah, mungkin ini yang dibilang pandangan pertama itu rezeki…hahahaha.
Tapi, lama-lama jadi risih, kok jadi di liatin mulu.
Astagfirullah…

entah saya yang geer atau memang ada sesuatu yang aneh di wajah puspa. langsung deh buru-buru cari hp, ngaca!
Tapi sepertinya judul lagu pinkkan mambo yang ‘aku baik-baik saja’ cukup mewakili.
langsungdeh serangan teroris pikiran aneh melesat-lesat.

“Hayo, mungkin mas-mas itu tadi liat kamu tidur sambil ngiler kali…”
Aku merinding, bisa jadi…
“Atau tadi kamu ngigau ga jelas kali…”
Masuk akal…
duh…
akhirnya di sisa sepanjang perjalanan itu Puspa hanya bisa menunduk lemas…

Ya Allah, rupanya benar… perjalanan jauh bagi wanita (apalagi ga jelek2 amat kayak gini,hihihi) memang seharusnya ditemenin muhrimnya….

Jujur… sebelumnya, perjalanan jauh itu nggak jadi serepot ini.
berkenalan dengan siapa saja di jalan (termasuk ikhwan), loncat sana-sini dengan celana (termasuk mengejar ketinggalan bis-sampe sekarang sih-), dan lain-lain terasa mengalir.
tapi….
Rasanya kini jadi berubah lebih menjaga diri. Yap, bertanggung jawab pada diri sendiri lah tepatnya.
Pelajaran kedua yang di terima….hehehehe

Begitu banyak hal-hal kecil yang semakin dirasakan dan diperhatikan begitu berharga yang kadang kita lupa.
Satu hal lagi, SEMANGAT.
kata yang hampir hilang itu… kini menyeruak ingin masuk dalam jiwa lebih dalam lagi.

Masalah “impian’ tanpa ‘aksi’ memang bukan hal mudah. Menjaga diri dalam keaadaan sesederhana mungkinpun juga bukan hal yang mudah. Masih banyak hal yang harus diperbaiki.

“Duhai Allah, yang menggenggam jiwa ini. Izinkanlah aku mencintaMu ya Rabb, mencintai orang-orang yang mencintaiMu, dan mencintai amalan yang membuat aku semakin mencintaiMu.”

semoga tulisan ini bermanfaat,hihihi (^_-)p!

@Depok, Mbrc. Di tengah meraih mimpi.

Older Posts »