Selamanya…

Mencintaimu tidak ada yang tidak mungkin
jika Allah yang bukakan pintu hati,
menyinari wajahmu, dan mendekatkan jarakmu
kepadaku.

Mencintaimu tidak ada yang tidak mungkin,
jika Allah yang beri ijin, membentangkan semua jalan,
walau berliku, kau akan tetap sampai
kepadaku.

Mencintaimu tidak ada yang tidak mungkin,
selama Allah ridhoi, saat semua do’a dikumpulkan,
ada namaku disujud malam, lalu Allah kabulkan doamu
kepadaku.

Tidak ada yang perlu dirisaukan
Jika memang Allah masih inginkan kita bersama
maka merayuku bukan jadi yang utama
ketika merayu Allah memecahkan semua urusan.

kita hati manusia yang mudah Allah bolak-balikkan,
juga Ia kuatkan.
Mendoakanmu pasangan hidupku sampai ke Syurga.
Semoga Allah ijinkan kita terus bersama.

18 April 2016,
17days-afterakad
Muhammad Victor Wilson.

Sajak Kesukaan #1

Barangkali telah kuseka namamu
dengan sol sepatu
Seperti dalam perang yang lalu
kauseka namaku

Barangkali kau telah menyeka bukan namaku
Barangkali aku telah menyeka bukan namamu
Barangkali kita malah tak pernah di sini
Hanya hutan, jauh di selatan, hujan pagi

(Sajak Barangkali Telah Kuseka Namamu, Goenawan Mohamad)

Saja

Andai saja aku bisa membaca pesan yang kau bisikkan kepada angin,
tentu takkan serisau ini.
Andai saja tak masalah bagiku hidup tanpa bersamamu,
tentu takkan sejenuh ini.
Diam-diam saja berharap…
Perlahan-lahan saja berucap…
hidup ini tinggal berapa lama lagi, aku tak tahu.
yang kutahu aku sedang menjalaninya sendiri,
dan menantimu menemani.

#ROAD II

Sepandai-pandainya tupai melompat, tetap ia akan jatuh juga. Kurang lebih begitu ungkapannya.
Aku masih menapaki jalan panjang. Jalan yang tidak sama. Jalan yang aku putar, mencoba arah yang lain. Dengan hati yang berat aku menyerah dengan jalan ini. Jalan yang aku pilih telusuri. Dengan waktu yang dibuang (mungkin) dengan percuma, aku sadar… itu bukan jalan untukku. “Putar arah!” seru otakku. Tapi tubuh ternyata masih diam, belum membaca perintah dari otak. Sedetik, dua detik, tiga detik… hela nafas panjang. Tubuhku memutar. Membelakangi batu besar yang tadinya ada di depan, menghadang dalam waktu yang lama.
“Aku… bukan takut pada batu itu.” Aku meyakinkan diri.
“Aku… bukan menyerah pada jalan yang ada di belakang batu itu.” Ujarku pada diri sendiri.
Iya bukan karena itu aku memutar.
Setelah seharian duduk di depan batu besar yang menghalangi jalan, tidak kutemukan celah untuk memindahkannya, tidak kutemukan bantuan untuk memindahkannya, dan batu itu pun tak mau mengucapkan sepatah kata, agar aku bisa merayunya.
Di kondisi seperti itu, aku akan menyalahkan diriku akan apapun. Cuaca, daun yang bergoyang, helaan nafas. Aku akan mengukur semua gerak-gerik yang membuat aku tak mampu melewati batu itu. Tapi tak satu kalipun aku menyalahkan keberadaanku hingga sampai di jalan ini.
“Kita bisa memilih jalan yang ingin kita lewati, tapi Tuhan yang menentukan mana jalan yang akan kita lewati. Jalan itu punya tuannya. Tuannyalah yang mengijinkan orang yang melintasi pertama, kedua, ketiga, dan siapapun yang bisa melintas. Tuannya yang memiliki tanah, mengijinkan orang pertama untuk membuka jalan untuk orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tuannya adalah Tuhan. Tuhan pemilik jalannya. Tuhan yang tentukan jalan kita yang mana.”
Aku menghentikan langkahku di bawah pohon rindang, “sepertinya aku perlu beristirahat.” Kesal masih melanda. Tidak mudah mengatakan bahwa jalan yangsudah kita telusuri panjang adalah bukan jalan kita. Perasaan cemas juga akan mengikuti…”dapatkah aku menemukan jalan dengan tujuan yang sama.”
Jalan yang ‘bukan jalanku’ itu memang indah. Salah satu jalan yang pemandangannya menentramkan hatiku hingga tak terasa aku telah sampai pada batu besar yang menghadang. Tapi itu tetap bukan jalanku. Mungkin sekarang hanya batu, bisa jadi besok aku temukan jurang.
Tuhan yang tentukan jalan kita. Di jalan yang akan kupilih dipersimpangan nanti…
Jalan itu, mungkin kali itu, aku menapaki jalan yang benar. Benar-benar untukku.
Sepandai-pandainya aku memilih jalan, tetap bisa saja salah.
Tidak masalah, bukan masalah, aku hanya perlu menemukan persimpangan untuk memulai jalan baru.
Dan dari semua itu, biar Tuhan yang menunjukan.

1/7/2015

Road #1

Ada sebuah batu besar di hadapanku.
Dari semua perjalanan panjang ini (dan aku yakin di depan sana jalan masih lebih panjang), batu ini yang paling lama membuat aku menghentikan langkahku.
“Kenapa ada batu yang menghalangi jalan ini?” Aku bertanya-tanya, sesering aku bertanya pada diriku tentang banyak hal, tak terkecuali kali ini.
“Apakah sebelumnya tidak ada batu ini? Apakah batu ini baru saja jatuh dari langit untuk menghentikan langkahku? Apakah batu ini memang sudah ada sejak dulu?” dan muncullah pertanyaan paling menggangu yang tak jarang aku lontarkan, “apakah ini bukan jalan untukku?”
Dari semua perjalanan, akan lebih banyak pertanyaan tentang “kenapa sesuatu hadir di hadapanku?”yang aku lontarkan pada diri sendiri, kadang pada cuaca yang terlalu menyengat, atau pada batu-batu yang aku tendang karena kesal tak memberi jawaban.
Waktu yang panjang tak memberiku pilihan untuk bertanya langsung pada diri, “bagaimana caranya untuk melangkah maju?”. Aku memang penikmat suasana. Menikmati bertanya-tanya tanpa langsung ke pokok permasalahan. Mungkin karena siang masih panjang. Mungkin karena aku tak ingin bergegas sampai tujuan, atau mungkin aku takut… akan ada apalagi yang menghadang setelah ini? Jadi aku perlu mengumpulkan keyakinan.
Kugulung lengan baju, lalu duduk bersandar di batu besar itu. Aku mencoba untuk berteman.
Selalu setelah perdebatan dengan diri sendiri, aku akan mencoba berteman dengan apa saja yang menghentikan langkah. Sekedar mengajaknya berbicara.
Ku sapa batu itu. Diam. Batu ini adalah batu paling pendiam yang aku temui. Tak ada gerakan, tak ada sepatah kata diucapkan.
Ku tanya ia dari mana? sedang apa di sini? keluarganya dimana? apakah selama ini perjalanannya menyenangkan? semua pertanyaan umum sudah aku coba lontarkan. Berharap ada sepatah kata yang keluar.
Tapi dia tetap diam.
Sejam, dua jam, aku mulai merasa terabaikan.
Kugeser ia dengan tubuhku perlahan. Tidak ada niatan ia untuk bergeser. Aku kumpulkan semua tenaga, mendorongnya. Tidak ada niatan ia untuk bergeser. Sekali lagi, aku dorong ia sekuat-kuatnya. Bergeser. Tapi tidak signifikan. Aku berteriak kesal.
“Hey batu, aku mau lewat. Bergeserlah… sediakan sedikit tempat untukku melangkah maju!” pintaku sedikit marah. Batu pendiam itu tetap diam.
“Hey batu, aku telah lama menelusuri jalan ini. Bergeserlah sedikit, aku mau lewat!” pintaku dengan nada yang lebih tinggi. Batu pendiam itu tetap diam.
Ku tendang batu itu, dan aku kesakitan. Kakiku menerima rasa sakit yang menjalar sampai keubun-ubun. Aku berteriak kesakitan.
Di saat-saat seperti ini, aku memilih berbaring menatap langit. Kurebahkan tubuh di hadapan batu pendiam itu. Langit tidak biru, sebiru warna laut yang tenang. Langitku hari ini agak abu-abu. Awan yang dominan tidak berwarna putih. Matahari tidak menyengat seperti biasanya.
“Jangan hujan…”pintaku lirih pada langit.
Di saat berbaring seperti ini, kebiasaanku adalah menghitung tentang kesalahanku… tentang kenapa aku memilih jalan yang ini? Kenapa ketika di persimpangan tadi aku tidak memilih jalan yang berbeda? Kenapa aku meneriaki batu dengan kasar? Kenapa aku malah menyakiti kakiku? Ah… kepalaku dan kini hatiku mendadak sakit.
Tidak, bukan begitu cara kerjanya… aku menghitung lagi apa yang aku dapat dari jalan yang aku pilih ini. Bunga-bunga di pinggir jalan, angin yang bertiup riang, pemandangan yang menyegarkan, aku memilih jalan ini dengan hati yang berdebar namun riang… dan tak sabar melangkah maju. Batu itu adalah batu yang paling lama menghentikan langkahku. “Apakah aku harus memutar?” aku bertanya-tanya. Berulang-ulang.
Di saat seperti ini logikaku kurang bekerja. Aku tengah menikmati jalan yang ini… “hey batu, aku ingin berjalan maju, tidak bisakah kamu saja yang mengalah?”
kali ini aku mencoba belajar untuk bersabar menanti pertanda jika memang ini bukan jalan untukku.

Found

Aku bertemu dengan mu di satu senja
yang kuharapkan tak pernah bertemu senja seindah itu lagi
lalu aku termangu menatap kakimu yang berjalan maju, lalu mulai malu.

Apalagi selain panik, setelah malu terus mengganggu?
Langit kemudian menghitam, dan aku berjalan mundur.
Ah, tak pernah ada senja seindah itu
setelah kita berpamitan.

Kemudian, haruskah kita bertemu lagi
atau cukupkan sampai di situ?
Ini misteri…masih misteri.

-pwk-

Pangrango Oktopus :)

Tanggal 5 Oktober 2014, saya lebaran Adha di puncak gunung Pangrango.
Ini kedua kalinya saya hiking setelah 2 tahun yang lalu ke Gn. Gede.
Tetap masih dijaga oleh dua guardian angel saya, Vici dan Ania. (ah, kalau tanpa mereka sih saya malassss)
Kenapa? Karena saya anaknya super nyusahin kalau hiking. Dan sejak pendakian pertama ke Gede saya sadar bahwa saya punya teman yang kece banget ngejagain saya, yang sangat sabar sama saya, dan yang selalu memberi support.

Bagi anak pantai seperti saya, yang 3 tahun ini kemana-mana kebiasaan naik pesawat (haha perjadin kantor), yang hobby milih-milih hotel2 ngadain acara, yang lebih suka bawa koper dan dandan cantik ke luar kota, mendaki gunung sebuah tantangan besar. Terlebih lagi yang punya perasaan suka nggak enak seperti saya, nyusahin orang tuh jadi kayak “killing me softly”. Nah, dengan adanya Ania dan Vici, saya jadi merasa lebih tenang dan santai… (thanks sist brooo).

Mendaki bagi saya berarti bersusah susah. Susah karena saya jarang olahraga, jadi otot-otot suka syok, dan badan sakit2. Selalu kehabisan nafas diperjalanan yang akhirnya bikin beberapa orang harus bersabar dengan gerak saya yang lambat.
Mendaki itu bagi saya adalah cara ampuh mengenal diri sendiri:
1. seberapa besar keinginan saya untuk mencapai sesuatu
2. seberapa sabar saya, seberapa sering saya mengeluh, dan seberapa peduli saya dengan orang lain
3. seberapa kreatif saya
4. dan batasan saya berkompromi dengan keadaan
Mendaki itu bagi saya juga mengisi paru paru dengan udara bersiiih. Tau sendiri Jakarta dan Depok asap semua isinya.
Mendaki itu bisa mengenal orang lain… suka deh keliatan sikap aslinya seseorang
Mendaki itu sudah cukuplah ya…. (nanti mendaki lagi kalau ada kesempatan ke Rinjani)

Setiap kali mendaki udah pasti nggak bisa kontrol wajah. hahaha

Pengalaman paling berkesan dari pendakian Pangrango ini?
Hm… adalah ketika kamu yang nggak biasa terserang dinginnya pegunungan di pukul 4 pagi harus mendaki dengan jalur yang “luarbiasa” dan kamu terus menyemangati diri sendiri…” Hayo, kamu pasti bisa. Kamu pasti bisa Puspa. Masih lama.. tapi pasti bisa sampai puncak”.
Kerasa banget deh membangun kepercayaan diri ditengah demotivation karena cape, dingin, dan merasa semua nggak mungkin. Dan harus terima kenyataan bahwa nggak semua hal kamu bisa jago….hehe
IMG_20141007_111627[1]

Tak bisa tak jatuh cinta

inilah mungkin diriku,
mungkin ini diriku,
tak bisa tak jatuh cinta
jika tidak…maka tak akan ada apa-apa.

inilah mungkin aku,
mungkin ini aku,
tak bisa jika tak gemar,
jika tidak… maka tak mungkin aku mengejar.

biar bingar-bingar,
biar gaduh-gaduh,
tak akan ada kamu di mata
tak akan berpandangan.

biar sunyi senyap,
biar bersembunyi di balik bulan,
tak mungkin tak terlihat,
jika memang hati ini tertangkap.

Merindu itu menggebu untukku.
Memilikimu itu hidupku.
Inilah aku, tak mungkin tak jatuh cinta.
tak mungkin tak jatuh cinta.
tapi cinta itu siapa?

Udahan Berpergiannya

Kapan-kapan.

Ini jawaban setelah berdialog panjang dengan diri sendiri.

Setelah tabungan terkuras habis untuk perjalanan umroh kemarin (semoga Allah mengganti menjadi berkah) dengan kondisi dolar yang ‘memanas’ dan belanja yang menggila ^^, plus setelahnya pun tetap menggila belanja -___-“… membaca buku tabungan membuat air mata bercucuran deras sekali. Dan dengan tertatih-tatih 5 bulan pun tabungan juga ga nambah sesignifikan tahun kemarin T.T. (Hidup memang kejam kakak)

Jadi kapan ke Turky? Uhuuuuk kapan-kapan ya dek.

Selain buku tabungan yang kurang oke buat dibaca, ternyata tantangan ke depan sudah menari-nari di depan mata!  Saking asiknya jalan2 (pulkam tiket pesawat ok, foyafoya oleh2 pas perjadin, dsb, dsb) sampai lupa kalau udah deadline nabung buat modal usaha, nabung buat DP KPR, nabung buat UP S2, nabung buat biaya pernikahan (ciee). Jadi semakin jauhlah itu impian ke Turki T.T, boro-boro Paris dan India.

Sudah-sudah… nanti kalau rezeki ga kemana. Hayo semangat nabung buat modal usahanya dulu. Fokus belajar usaha, fokus sama target S2 dan bantu2 saudara yang membutuhkan. Jadi sudahan dulu berpergiannya🙂

Karena diburu2, jadinya ga sempet edit video. Banyak banget yang ga sempat di tulis disini jadi divideoin aja.

Kedepannya semoga Blog ini isinya lebih berbobot ya, bukan cuma sekedar curhatan kayak buku diary (dan yang baca paling juga cuma Papah dan orang2 yang gak sengaja buka link). Dan insyaAllah kedepannya produktif nulis cerpen. Cayooo~

https://www.flickr.com/photos/124294079@N05/14140349530/

 

 

H for Happy

Ya ampuuun~ sejak kapan deh ini kebanyakan tulisan di blog jadi melankolis meye meye?? (Perasaan emang sendari awal deh ya, haha).

Padahal asli yang punya sanguinis, miss drama,  plegmatis cinta damai lengkap bergolongan darah A!

Blog ini pertama dibuat sebenarnya buat post  cerpen2 saya yang akan rilis jadi buku kumpulan cerpen. Niat awalnya sih bagus(haha), tapi kenyataannya nggak produktif nulis lagi. Apalagi hampir setiap buat cerpen belakangan ini pasti nyeritain pahit getirnya hidup awak, jadinya gimanaaa gitu kalau di post (alah, padahal kebanyakan nulis ga selesai).

Target bikin buku Novel/Cerpen di umur 24 tahun tinggal 4 bulan lagi. 25 tahun doooooooong! *lirik ktp yang tulisannya masih single* *abaikan*.

Yah baiklah… apa boleh buat kerjaan di kantor seharian nulis laporan jadi emang cape kalau harus nulis juga di waktu senggang. fyuuuuuh~

#tamparpipikiri Nggak boleeeeh, harus tetep semangat kakak!!! (Agak lebay -___-“, maaf sanguin).

Baiklah, post kali ini didedikasikan untuk throwback si kura2memusingkanku.wordpress.com🙂

1. Fyi, si kura2 ini sudah berusia 5 tahun di bulan Mei ini. Yeeeeeeeeyeeeeeesyalalalala…. dan total post sebanyak 43 post (ga produktif yak)

2. Nama kurakuramemusingkanku terinspirasi dari proyeknya my best friend pipit. Tugas kuliahnya buat game kura2 gitu. Terus dia kepusingan. hahaha… plus memang banyak anak fasilkom yang bikin saya pusing waktu itu. jadilah kurakuramemusingkanku. (agak gak nyambung emang, ya sudahlah ya…maklum remaja sanguin)

3. Post pertamanya berjudul matahari dengan isi copy-an tulisan Mario Teguh tentang perbedaan. Ini-ni ada tulisan yang bagus yang saya post ulang:

 “Hanya karena mereka berbeda darimu, tidak berarti mereka salah.

Hanya karena engkau merasa benar, tidak berarti engkau pasti benar.

Dan bahagiakanlah dirimu dengan keikhlasan,

Bahwa jika Allah berkenan,

Allah akan mensatu-imankan semua umat.

Karena satu-satunya kesamaan kita

Adalah perbedaan diantara kita, maka ada pelajaran

Yang sangat besar dan membesarkan di dalam perbedaan…

Sepakatilah bahwa tidak semua hal harus di sepakati.

Berlaku indahlah  karena kesamaan yang paling bijak

Adalah jika diijinkan untuk diyakini secara berbeda.”

Ckckck… dulu memang suka Mario Teguh, suka #jelbjelb kalau baca atau nonton show dia di TV. Dan membaca tulisan ini lagi membuat kembali #jleb.

Saya menerka…. ini pasti dipost dengan latar belakang suka duka pas tinggal di asrama, dimana perbedaan terlihat sekali. Beda suku-suku, beda orang-orang, beda cara pandang, dan sebagainya.🙂 Alhamdulillah banyak sekali berkah dan pelajaran yang di dapat saat di Asrama🙂 (pasti udah bacakan ya cerita tentang Asrama, sahabat2 Forkat dsbg. *berasa banyak yang ngikutin blog ini aja* hehe)

4.  Cerpen pertama yang dipost adalah surat cinta dalam almari ummi. Udah pada baca belum? Ih kalau belum nggak gaul banget. (haha) Entah kesambet apa pas nulis cerpen ini.

Cerpen ini cuma dibuat dalam waktu 3-4 jam dan nggak banyak editingnya. dan as you know… ini cerpen bahkan ada fansnya. Beberapa blog ada yang nge-copy tanpa kasih nama penulis aslinya *nangisdipojokan*. Dan suatu hari pas lagi buka FB, saya di kirimin pesan singkat yang bilang,

“saya dapet tulusan Mbak, cuman saya waktu itu lupa dapet dari siapa.. iya di akhir tulisannya ada nama Mbak, tulisan itu saya dapet ketika saya kuliah..dan barusan saya buka lagi tulisan itu dan mencoba search nama mbak di Fb dan alhamdulillah ada..Tulisannya bagus bgt Mbak..ketika saya pertama baca tulisan itu hati saya sampai bergetar dan menitikan air mata..saya kira Mbak anak unpad juga..”

Sumringah banget nggak siiiiiiiiiiiiiiiiiih baca beginian :p Berasa banget senangnya seperti dikasih ratusan bunga matahari🙂

Kalau dihitung cuma ada tiga. Ckckck 5 tahun cuma sanggup post tiga cerpen.-___- baiklah.

5. Kura2 ini selalu jadi tempat curhat, meye meye, dan semua tanda yang dimaksudkan buat orang2 tertentu yang sejatinya merekapun nggak akan sadar, haha. Nggak usah di bahaslah ya….

6. Tulisan terpanjang saya adalah Perjalanan Umroh Satu Tahun :p bahkan sampe 4 part. Maklum perjalanannya berkesan sekali😀. Tadinya juga mau post tentang perjalanan ke Australia, Jepang, dan Dubai juga. Tapi malessssnya kumat. Ya udahlah ya ga boleh sombong. hehe

7. Tulisan paling berkesan itu….cerpen surat cinta dalam almari ibu. Sungguh itu sebuah doa, sebuah harapan, dan kegundahan waktu umur 20an. hehe… sama lamaran yang kutunggu. Itu juga terinspirasi dengan kisah orang terdekat. Jadinya berkesan banget.

Wah, nggak kerasa yah si kura2 sudah menginjak 5 tahun. Banyak banget suka duka yang ada di blog ini (walau banyak tahun2 dan kejadian yang menarik yang nggak sempet di tulis di blog ini). But…. berharap kedepannya bisa lebih baik nulis dan tulisannya lebih berbobot. hehehe. amiiiiiin.

Selamat ulang tahun yang ke 5 kurakuramemusingkanku.wordpress.com!!