ini post-an saya di http://puspawkpunyacerita.tumblr.com/
Sekedar uneg2 ^^
“Gue perempuan yang punya hak atas tubuh gue sendiri… jadi suka-suka gue dong! emang laki-laki aja yang punya kebebasan.”
Jujur, kalimat ini jadi menggelitik hati saya… saya cuma menggeleng kepala dengan iba, enggan menanggapi semua kalimat-kalimat berselogan “kebebasan” yang teman saya ini teriakkan.
Mungkin saya terbilang lebih ‘nyeleneh’ ketimbang beberapa teman saya yang sama2 berjilbab rapih. bagi saya, semua orang memang punya kebebasan untuk menentukan kehidupannya, bukan orang lain, ataupun negara. Dalam kamus perempuan, mungkin ini lebih banyak kita temukan dalam teriakan teman2 yang beraliran feminisme. Saya memang tidak mendalami pelajaran ini di bangku kuliah saya„, saya fikir, ini terlalu bermazhab pada pemikiran Barat (yah, ada kemungkinan saya salah). Sejak semester 5, saya memang enggan banyak-banyak mengambil pemikiran dari barat (karena hampir semua pemikiran dari ilmu yang saya pelajari berhembus dari sana), maka saya mencoba mengambil ilmu-ilmu lain, Timur tengah misalnya…setidaknya, saya mencoba menemukan kata ‘keadilan’ bagi porsi ilmu yang saya dapat. haha…
hak atas diri perempuan ya?
dalam Islam, jelas-jelas di katakan bahwa kedudukan pria dan wanita sama kecuali amal perbuatannya… bagi saya ini sudah jelas, bahwa baik perempuan atau laki-laki punya hak yang sama dan yang membedakan hanya amal perbuatannya. Wanita boleh bekerja, boleh berpendapat, dan sejurus boleh-boleh lainnya yang baik dan bermanfaat. Tidak ada maksud mengekang sedikitpun.
Nah yang menarik dalam Islam, kalimat “suka-suka gue”, nggak jadi lazim di sini. kenapa? hal ini dikarenakan kita percaya bahwa segala perbuatan kita akan dinilai sama Allah YME. Perempuan yang beriman dan bertakwa, tahu betul apa yang kira-kira baik bagi dirinya dengan menghindari segala keburukan yang akan menimpanya kelak. Bagi saya, ini terdengar lebih anggun, lebih cerdas! Maka arti kebebasan di sini luas namun bermartabat!
Jadi sayang aja, denger temen saya yang teriak-teriak akan kebebasan pada perempuan atas dasar “suka-suka gue”. Terkesan murahan. Ok-ok, saya tidak mau berpanjang-panjang membahasnya, karena saya cuma mau beropini atau sekedar memandang dari perspektif berbeda.Saya memang tidak mengalami keadaan perempuan seperti di Iran, dimana semua perempuan diwajibkan berjilbab, aturan-aturan saklek pada perempuan atau seolah ada hambatan pada karir politik seorang perempuan. Tapi bagi saya seorang perempuan dan manusia, sebebas apapun pilihan yang kita ambil, selalu ada konsekuensinya. bisa baik-bisa buruk.. dipilih aja…
cuma sebagai sesama umat muslim, sesama saudara, alangkah lebih baik saling mengingatkan. hahaha… ceramah buat diri sendiri.^^
(‘w’)p!
Lampung, 14 Desember 2010..